terasjabar.id
Jumat, 1 Mei 2026
  • News
  • Bandung Raya
  • Lifestyle
  • Persib
  • Sport
  • Daerah
  • Berita Bank bjb
  • Wakil Rakyat
  • Indeks
No Result
View All Result
terasjabar.id
  • News
  • Bandung Raya
  • Lifestyle
  • Persib
  • Sport
  • Daerah
  • Berita Bank bjb
  • Wakil Rakyat
  • Indeks
Jumat, 1 Mei 2026
No Result
View All Result
terasjabar.id
No Result
View All Result
Home Berita Utama

MEDIA SOSIAL (Alat Kemajuan atau Mesin Perusak)

Herman by Herman
28 Nov 2025 10:33
in Berita Utama, Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
MEDIA SOSIAL (Alat Kemajuan atau Mesin Perusak)

Oleh: Subchan Daragana
Pemerhati Sosial – Magister Komunikasi, Universitas Bakrie

Kita hidup di zaman ketika manusia merasa paling terkoneksi, tetapi paling kesepian. Dunia digital yang awalnya disambut sebagai berkah kini perlahan berubah menjadi paradoks, ia mendekatkan yang jauh, namun menjauhkan yang dekat. Di titik tertentu, media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi ekosistem baru yang membentuk cara berpikir, merasakan, mengambil keputusan, bahkan memahami hidup. Pertanyaannya , “apakah media sosial masih menjadi alat kemajuan, atau sedang berubah menjadi mesin perusak yang bekerja dalam kesunyian?”

Para pemikir klasik ekologi media sudah jauh-jauh hari memperingatkan hal ini. Marshall McLuhan dalam tesis terkenalnya ” the medium is the message” mengatakan bahwa teknologi bukan sekadar alat penyampai pesan, melainkan “lingkungan” baru yang perlahan membentuk kesadaran manusia. Neil Postman menambahkannya dengan kritik bahwa kita sedang “menghibur diri sampai mati”, ketika segala hal dijadikan tontonan tanpa ruang untuk refleksi. Sementara Lance Strate menyebut media sebagai lingkungan simbolik yang mengatur ritme hidup, nilai, dan relasi sosial.

Jika dulu televisi dianggap medium paling dominan, kini media sosial telah mengambil alih sebagai “lingkungan baru” tempat pikiran manusia dibentuk. Kita tidak lagi sekadar melihat dunia melalui layar, tapi kita telah hidup di dalamnya.

Banyak dari kita yang tanpa sadar menjalani hidup dengan “refleks ibu jari” menggulir layar ketika bosan, cemas, kesepian, bahkan ketika tidak tahu harus apa. Aktivitas ini tampak sepele, tapi di baliknya ada mekanisme neurologis yang kuat, bahwa setiap notifikasi, like, dan video pendek memicu dopamin. Otak kita menjadi kecanduan stimulasi cepat.

ADVERTISEMENT

Teknologi mempercepat rangsangan, tetapi memperlambat pemulihan emosi. Akibatnya, muncul generasi yang secara mental selalu tergesa. Mereka terbiasa pada kepuasan instan tetapi gagap menghadapi proses panjang. Mereka mahir mengekspresikan opini, tetapi kesulitan bertahan dalam percakapan mendalam. Mereka pandai berkomentar, namun miskin kontemplasi. Kita menyebut fenomena ini sebagai ” ghaflah modern”, kelalaian gaya baru yang tidak lagi disebabkan kealpaan spiritual, tetapi dirancang oleh arsitektur algoritma.

Di banyak rumah, layar ponsel menjadi sumber keretakan kecil yang tak disadari. Pasangan berbicara tanpa saling mendengarkan. Anak merasa hadir secara fisik, tetapi tidak dihargai secara emosional. Waktu keluarga terpecah oleh jeda notifikasi. Komunikasi berubah menjadi sekadar pertukaran kalimat, bukan kehadiran batin. Para psikolog menyebut ini “presence erosion”, erosi kehadiran manusia.

Bandung, sqlah satu kota yang dikenal sebagai kota kreatif, juga menghadapi paradoks ini. Di satu sisi warganya produktif menghasilkan konten, kolaborasi, inovasi digital. Namun di sisi lain, kecemasan sosial meningkat, konflik di ruang maya meluber ke ruang nyata, dan banyak remaja tumbuh dalam tekanan perbandingan sosial yang tidak sehat.

Nilai moral pun ikut digeser oleh apa yang viral, bukan oleh ” apa yang benar “. Apa yang dulu diajarkan guru dan orang tua kini kalah oleh apa yang trending.

RELATED POSTS

“Paradoks Akhir Ramadhan” Tradisi Yang Mengeser Esensi

“SAAT AYAH PULANG KEPADA MAKNA “

WA’AFU “( AMPUNAN YANG MENGHAPUS JEJAK)

DPR Dukung Pembatasan Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun

Menkomdigi Jelaskan Alasan Penundaan Akses Media Sosial bagi Anak di Bawah 16 Tahun

Media sosial memaksa kita mengikuti arus dunia yang tidak kita pahami sepenuhnya. Kita dihadapkan pada tekanan agar selalu hadir, selalu update, selalu terlihat. Orang berkompetisi untuk bahagia, bukan untuk berkembang. Dalam lanskap seperti ini, ukuran hidup tidak lagi diukur oleh kebenaran moral, tetapi oleh algoritma. Kita sedang hidup dalam sebuah republik baru, “republik algoritma”, yang kepemimpinannya tidak pernah kita pilih.

Namun, tidak adil jika kita hanya menyalahkan teknologi. Masalah muncul ketika manusia kehilangan kendali, ketika alat yang seharusnya membantu justru menjadi penentu hidup. Karena itu, sejumlah negara mulai bergerak. Tiongkok membatasi jam penggunaan media sosial bagi remaja. Singapura menerapkan algoritma transparency dan hukum anti-disinformasi. Australia memperketat regulasi keselamatan online. Semuanya sepakat bahwa media sosial butuh aturan, bukan dibiarkan liar.

Indonesia belum terlambat, tetapi waktunya tidak banyak. Melihat maraknya judi online, maraknya konten kekerasan, polarisasi politik, hingga krisis kesehatan mental remaja, kita membutuhkan arah baru dalam governance digital. Negara harus hadir bukan hanya sebagai pemadam kebakaran, tetapi sebagai penjaga ekosistem.

Di level pribadi, kita pun butuh puasa digital ( diet digital ), kemampuan menjauh sejenak untuk memulihkan kedalaman batin. Kita perlu membangun media diet, memilah informasi, mengatur waktu layar, dan kembali merawat ruang offline. Masjid, ruang kelas, ruang keluarga, ruang komunitas, semua tempat yang memulihkan kembali fitrah manusia.

Karena pada akhirnya, kita tidak diciptakan untuk hidup dalam ruang yang penuh kecepatan dan kebisingan. Fitrah manusia membutuhkan keheningan, perjumpaan, dan kehadiran. Dunia digital hanyalah alat. Ia dapat menjadi ladang amal, dapat pula menjelma jurang kehampaan. Kita yang menentukan.

Jika kita ingin masa depan Bandung dan Indonesia tetap beradab, kita perlu memastikan bahwa teknologi tidak menggantikan kemanusiaan. Media sosial harus kembali menjadi alat kemajuan, bukan mesin perusak sunyi yang menggerus batin kita perlahan.

Kemenangan terbesar bukanlah viralitas, tetapi kemampuan mempertahankan diri sebagai manusia di tengah gempuran algoritma.***

Tags: Media SosialSubchan Daragana
ShareTweetSend

Related Posts

“Paradoks Akhir Ramadhan” Tradisi Yang Mengeser Esensi
Berita Utama

“Paradoks Akhir Ramadhan” Tradisi Yang Mengeser Esensi

15 Mar 2026 21:02
“SAAT AYAH PULANG KEPADA MAKNA “
Berita Utama

“SAAT AYAH PULANG KEPADA MAKNA “

13 Mar 2026 04:38
WA’AFU “( AMPUNAN YANG MENGHAPUS JEJAK)
Berita Utama

WA’AFU “( AMPUNAN YANG MENGHAPUS JEJAK)

11 Mar 2026 08:56
DPR Dukung Pembatasan Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun
News

DPR Dukung Pembatasan Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun

10 Mar 2026 21:11
Menkomdigi Jelaskan Alasan Penundaan Akses Media Sosial bagi Anak di Bawah 16 Tahun
News

Menkomdigi Jelaskan Alasan Penundaan Akses Media Sosial bagi Anak di Bawah 16 Tahun

10 Mar 2026 13:41
Teror Terhadap Pengguna Media Sosial Menguji Komitmen Serta Ketangguhan dari Kecerdasan Spiritual Pejuang yang Sejati
Opini

Teror Terhadap Pengguna Media Sosial Menguji Komitmen Serta Ketangguhan dari Kecerdasan Spiritual Pejuang yang Sejati

6 Jan 2026 05:36
Next Post
Mendadak, Kepala Kejaksaan RI Bandung Diganti, dari Irfan ke Abun Syambas

Mendadak, Kepala Kejaksaan RI Bandung Diganti, dari Irfan ke Abun Syambas

Empat Kapolsek di Tasikmalaya Diganti, Kapolres Sebut untuk Perkuat Kinerja

Empat Kapolsek di Tasikmalaya Diganti, Kapolres Sebut untuk Perkuat Kinerja

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
TERBARU! Timezone Bandung Buka Loker Buat Lulusan SMA dan SMK

TERBARU! Timezone Bandung Buka Loker Buat Lulusan SMA dan SMK

26 Apr 2026 08:00
Ada 5 Posisi, PT Medion Bandung Buka Loker Buat Lulusan SMA SMK

Ada 5 Posisi, PT Medion Bandung Buka Loker Buat Lulusan SMA SMK

28 Apr 2026 15:29
Ada 3 Posisi! Yogya Bandung Buka Loker Buat Lulusan SMA SMK

Ada 3 Posisi! Yogya Bandung Buka Loker Buat Lulusan SMA SMK

29 Apr 2026 16:57
TERBARU! Hangry Bandung Buka Loker Crew Outlet Buat Lulusan SMA SMK

TERBARU! Hangry Bandung Buka Loker Crew Outlet Buat Lulusan SMA SMK

26 Apr 2026 11:17
Manchester United vs Liverpool: Duel Panas Perebutan Tiket Liga Champions

Manchester United vs Liverpool: Duel Panas Perebutan Tiket Liga Champions

0
Ismaila Sarr Bersinar! Crystal Palace Unggul Cepat di Semifinal

Ismaila Sarr Bersinar! Crystal Palace Unggul Cepat di Semifinal

0
Mason Mount Yakin Manchester United Bisa Rebut Gelar Liga Inggris

Mason Mount Yakin Manchester United Bisa Rebut Gelar Liga Inggris

0
Polda Jabar Ungkap Tambang Emas di Pongkor Bogor, 4 Orang Diamankan

Polda Jabar Ungkap Tambang Emas di Pongkor Bogor, 4 Orang Diamankan

0
Manchester United vs Liverpool: Duel Panas Perebutan Tiket Liga Champions

Manchester United vs Liverpool: Duel Panas Perebutan Tiket Liga Champions

1 Mei 2026 04:35
Ismaila Sarr Bersinar! Crystal Palace Unggul Cepat di Semifinal

Ismaila Sarr Bersinar! Crystal Palace Unggul Cepat di Semifinal

1 Mei 2026 03:58
Mason Mount Yakin Manchester United Bisa Rebut Gelar Liga Inggris

Mason Mount Yakin Manchester United Bisa Rebut Gelar Liga Inggris

1 Mei 2026 03:33
493 Napi Kuningan Mendapat Layanan NIK Disdukcapil

493 Napi Kuningan Mendapat Layanan NIK Disdukcapil

30 Apr 2026 22:53
  • About
  • Redaksi
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Sertifikat JMSI
Hubungi Kami : [email protected]

© 2025 Teras Jabar - dari Jawa Barat untuk Indonesia. All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • News
  • Bandung Raya
  • Lifestyle
  • Persib
  • Sport
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Berita Bank bjb
  • Wakil Rakyat
  • Opini
  • Indeks Berita

© 2025 Teras Jabar - dari Jawa Barat untuk Indonesia. All Rights Reserved.