TERASJABAR.ID – Ripley syndrome mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang.
Istilah ini merujuk pada kumpulan gejala yang kerap dikaitkan dengan individu berkepribadian antisosial yang juga mengalami gangguan identitas disosiatif.
Nama sindrom ini terinspirasi dari tokoh fiksi dalam novel The Talented Mr. Ripley karya Patricia Highsmith yang terbit pada 1955.
Dalam cerita tersebut, tokohnya digambarkan hidup dengan identitas palsu, gemar berbohong, serta bersikap manipulatif demi kepentingan pribadi.
Pada kondisi Ripley syndrome, penderitanya cenderung menjalani kehidupan yang dibangun di atas kebohongan dan manipulasi.
Mereka umumnya tidak merasakan rasa bersalah atas tindakan yang dilakukan.
Secara umum, sindrom ini dikaitkan dengan kepribadian antisosial yang memiliki ciri khas seperti sering berbohong atau menipu, bersikap manipulatif, merasa superior, melanggar aturan, hingga melakukan tindakan kriminal dan impulsif.
Selain itu, penderita biasanya kurang empati, sulit menghargai orang lain, serta memiliki hubungan sosial yang buruk dan berpotensi menyakiti orang terdekat.
Ketika disertai gangguan disosiatif, penderita dapat menyangkal realitas dan tenggelam dalam kebohongan yang diciptakannya sendiri, bahkan sampai kehilangan jati diri.
Meski demikian, mereka sering kali memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan mampu meyakinkan orang lain atas identitas palsu yang dibangun.
Hingga kini, penelitian mengenai Ripley syndrome masih terbatas.
Namun, kondisi ini diduga dipicu oleh berbagai faktor, seperti trauma masa lalu, kurangnya kasih sayang, citra diri yang buruk, tuntutan hidup yang berat, serta riwayat keluarga dengan gangguan kepribadian.
Tanpa penanganan, kondisi ini dapat berkembang menjadi masalah mental lain seperti kecemasan, depresi, delusi, atau gangguan ingatan.
Penanganan umumnya melibatkan psikoterapi, obat-obatan tertentu, serta dukungan keluarga melalui konseling.-***











