TERASJABAR.ID – Perubahan iklim yang memicu anomali cuaca berupa hujan ekstrem dan meningkatkan risiko banjir menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian, khususnya dalam menjaga stabilitas produksi padi nasional.
Kondisi ini menuntut langkah yang lebih adaptif dan terukur untuk menekan risiko gagal panen.
Dalam beberapa kesempatan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa cuaca ekstrem merupakan ancaman serius bagi produktivitas pertanian karena memicu ketidakpastian musim tanam, kekeringan, dan banjir, yang berpotensi meningkatkan risiko gagal panen.
“Kita harus melakukan mitigasi risiko agar dampaknya tidak mengganggu ketahanan pangan,” ujarnya, dikutip laman resmi Kementan.
Sejalan dengan Mentan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa perubahan iklim ekstrem meningkatkan risiko gagal panen akibat fluktuasi suhu, perubahan pola curah hujan, dan kejadian cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi.
“Fenomena ini menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian Indonesia, sehingga sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian (Andi Amran Sulaiman.red) diperlukan penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap iklim,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari menggelar Millennial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 4 bertema “Antisipasi Banjir dan Perubahan Iklim: Strategi Tanam Cerdas untuk Meningkatkan Produksi Padi”.
Forum ini menjadi wadah peningkatan literasi iklim serta penguatan kapasitas penyuluh, petani, dan generasi muda pertanian dalam merespons risiko cuaca ekstrem.
Webinar ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa, penyuluh pertanian, serta petani dari berbagai daerah. Para peserta diharapkan mampu mengaplikasikan strategi tanam cerdas berbasis iklim di lapangan guna meminimalkan dampak hujan ekstrem dan potensi banjir terhadap produksi pangan.
















