TERASJABAR.ID – Masa purna bakti tidak semata menjadi penutup karier, melainkan fase peralihan peran yang perlu disiapkan secara lebih terencana.
Tanpa kesiapan yang memadai, fase ini justru berpotensi menimbulkan tantangan kesejahteraan dan sosial.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini menyampaikan bahwa dalam menempuh karier, seorang pegawai cenderung lebih sering berbicara perjalanan awal karier tentang CPNS, pengangkatan, dan promosi jabatan.
“Tapi lebih jarang kita berbicara dengan serius tentang satu fase yang pasti dialami semua pegawai, yakni masa purna bakti. Padahal bagi banyak pegawai, purna bakti bukan berarti berhenti berkarya,” katanya, dilansir laman Kementerian PANRB.
Ia menyampaikan hal itu saat menjadi keynote speech pada Seminar Kebebasan Financial Melalui Entrepreneur dan Bisnis di Universitas Padjadjaran, Bandung.
Rini menjelaskan bahwa masa purna bakti memang sering digambarkan sebagai masa yang tricky. Hal tersebut dikarenakan adanya tantangan tidak sederhana, dan tidak selalu terlihat di permukaan.
Masa purna bakti tidak hanya berdampak pada kondisi finansial, tetapi juga pada kesehatan mental, relasi sosial, dan rasa kebermaknaan hidup.
Berbagai studi menunjukkan bahwa ketidaksiapan non-finansial dalam transisi pensiun berkontribusi pada menurunnya kesejahteraan dan partisipasi sosial di usia lanjut.
“Artinya, meskipun kebutuhan finansial relatif tercukupi, tanpa kesiapan mental dan sosial, fase ini tetap bisa terasa berat,” jelasnya.













