Oleh : Subchan Daragana
(Pemerhati Sosial dan Mahasiswa Magister Komunikasi Universitas Bakrie)
KITA sering menilai hidup dari apa yang kita miliki jabatan, harta, pencapaian. Padahal alam mengajarkan satu pelajaran sunyi tapi dalam pohon tidak hidup untuk dirinya sendiri.
Ia tumbuh, berakar, berdaun, lalu berbuah namun buahnya tidak ia nikmati. Buah itu jatuh ke tangan siapa saja yang membutuhkan. Begitulah seharusnya hidup manusia.
Pohon yang baik tidak lahir dari tanah yang rapuh. Ia membutuhkan akar yang kuat, tanah yang subur, air yang cukup, dan cahaya yang seimbang.
Jika akarnya rapuh, pohon mudah tumbang. Jika batangnya sakit, buahnya pahit atau bahkan tak tumbuh. Maka sebelum berharap berbuah, pohon harus sehat terlebih dahulu.
Manusia pun demikian. Kita sering ingin cepat bermanfaat, ingin segera “berbuah” di tengah masyarakat, tapi lupa merawat akar dan batang diri sendiri.
Akar manusia adalah iman dan nilai hidup. Batangnya adalah karakter dan akhlak. Daunnya adalah pikiran dan lisan. Jika bagian ini rapuh, maka manfaat yang dihasilkan pun rapuh.
Al-Qur’an menggambarkan ini dengan indah. Allah berfirman bahwa kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit, lalu ia memberi buah pada setiap waktu dengan izin Tuhannya ( QS. Ibrahim ayat 24-25 ).
Artinya, iman yang sehat akan melahirkan amal yang konsisten, dan amal itu akan terus memberi manfaat, bahkan ketika pemiliknya telah tiada.
Namun ada satu hal penting, pohon tidak sibuk mengagumi buahnya sendiri. Ia tidak menyimpan hasilnya, tidak memilih siapa yang boleh memetik. Ia hanya fokus tumbuh dan berbuah. Urusan siapa yang menikmati, itu bukan urusannya.
Di sinilah letak keindahan hidup yang matang. Manusia yang dewasa secara spiritual tidak hidup untuk validasi, pujian, atau pengakuan.
Ia hidup dengan kesadaran bahwa kehadirannya adalah amanah.
Ketika ilmunya mencerahkan orang lain, ketika lisannya menenangkan, ketika tindakannya memudahkan hidup orang lain di situlah buah itu bekerja.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan amal, dan amal yang tidak memberi manfaat bagi makhluk, justru akan menjadi beban di akhirat.
Pesan ini sederhana tapi menusuk, hidup yang hanya berputar pada diri sendiri adalah hidup yang belum selesai.
Tentu, berbuah bukan berarti mengabaikan diri. Pohon tetap menyerap air, tetap merawat batangnya. Manusia pun perlu menjaga kesehatan, keluarga, dan ketenangan batin. Tetapi semua itu bukan tujuan akhir melainkan bekal agar kita bisa terus memberi.
Di zaman yang serba kompetitif ini, banyak orang kelelahan karena hidup hanya untuk dirinya, mengejar, mengumpulkan, membuktikan.
Padahal pohon mengajarkan jalan yang lebih tenang, tumbuh pelan, kuat di dalam, dan bermanfaat ke luar.
Mungkin pertanyaan terpenting bukanlah, “Sudah sejauh apa aku melangkah?”
Melainkan, “Apakah hidupku sudah berbuah?”
Jika hari ini kehadiran kita membuat orang lain sedikit lebih ringan bebannya, sedikit lebih tenang hatinya, sedikit lebih kuat imannya maka kita sedang menjalani hidup sebagaimana pohon yang baik.
Dan pohon yang baik, meski suatu hari tumbang, buahnya akan terus ditanam kembali.-***















