(Kenapa Kematian Dirahasiakan Waktunya?)
Oleh : subchan daragana
Kematian adalah satu-satunya kepastian yang dimiliki setiap manusia.
Namun anehnya, justru pada satu hal yang paling pasti itu, Allah memilih menyembunyikan waktunya.
Kita tahu kita akan mati.
Tapi kita tidak pernah tahu kapan.
Tidak ada kalender.
Tidak ada jam.
Tidak ada pemberitahuan.
Dan di situlah pertanyaan besar itu muncul:
untuk apa kematian dirahasiakan waktunya?
Kematian Pasti, Tapi Tidak Pernah Dijadwalkan
Sejak kecil, manusia diajari bahwa hidup ini sementara.
Setiap yang bernyawa akan mati.
Namun bersamaan dengan itu, manusia juga tumbuh dengan satu ilusi halus,
seolah kematian masih jauh, masih nanti, masih bisa ditunda.
Padahal Al-Qur’an menegaskan dengan sangat sederhana:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
Bukan akan melihat.
Bukan akan mendengar.
Tetapi akan merasakan.
Namun Allah tidak melanjutkan ayat itu dengan keterangan waktu.
Tidak ada tanggal.
Tidak ada usia.
Tidak ada urutan.
Karena kematian bukan sekadar informasi.
Ia adalah alat pendidikan kesadaran.
Jika Waktu Kematian Diketahui, Apa yang Terjadi?
Bayangkan seandainya manusia mengetahui dengan pasti kapan ia akan wafat.
Tanggalnya jelas.
Jamnya akurat.
Detiknya tidak meleset.
Apa yang akan terjadi?
Sebagian manusia akan menunda kebaikan.
“Masih lama,” katanya.
Taubat pun menjadi rencana jangka panjang, bukan kebutuhan hari ini.
Sebagian lain akan hidup dalam kecemasan.
Setiap hari terasa semakin sempit.
Hidup bukan lagi ruang amanah, tapi ruang panik.
Sebagian mungkin akan beramal.
Namun amal yang lahir dari deadline, bukan dari cinta dan kesadaran sebagai hamba.
Hidup akan berubah menjadi proyek hitung mundur.
Bukan perjalanan makna.
Karena itu, waktu kematian tidak diberitahu.
Bukan karena Allah ingin manusia lengah,
tetapi karena Allah tidak ingin manusia rusak oleh kepastian waktu.
Ketidaktahuan Itu Bukan Kekurangan, Tapi Rahmat
Dalam iman, tidak semua yang dirahasiakan adalah hukuman.
Sebagian justru adalah perlindungan.
Allah mengetahui keterbatasan manusia.
Ia tahu bahwa jiwa manusia rapuh ketika diberi kepastian yang terlalu besar.
Maka ajal disimpan.
Bukan agar manusia lalai,
tetapi agar manusia selalu siap tanpa harus panik.
Ketidaktahuan tentang kematian membuat
taubat tidak bisa ditunda,
amal tidak bisa dijadwalkan seenaknya
hidup tidak bisa disepelekan
Setiap hari menjadi penting,
karena bisa jadi itu adalah hari terakhir tanpa pernah kita tahu.














