TERASJABAR.ID – Kasus keracunan makan bergzi gratis (MBG) di Cimahi, selain menimpa puluhan siswa, seorang guru pun ikut keracunan. Adalah Erika Tika Sari (45), seorang guru, yang ikut keracuan akibat menyantap menu MBG.
Erika sempat menghabiskan waktu di ranjang IGD RSUD Cibabat, Kota Cimahi. Erika dilarikan ke rumah sakit pada Rabu (25/2/2026) malam, karena mengalami muntah-muntah dan pusing. Guru SDN Karangmekar Mandiri 1 ini bahkan sempat dipasang infus. Erika kehilangan banyak cairan akibat gejala khas keracunan usai menyantap onigiri atau nasi kepal dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima sekolahnya Rabu (25/3/2026) pagi.
Karena kebetulan sedang tidak berpuasa, Erika menyantap menu tersebut pada pukul 13.30 WIB sepulang mengajar. Di dalam paket menu MBG yang diterimanya, terdapat pula telur rebus, apel, kurma, serta susu UHT. “Saya makan pukul 13.30 siang kebetulan sedang tidak puasa. Saya hanya makan onigiri saja,” kata Erika, Jumat (27/2/2026).
Onigiri isi ayam suwir itu tak ia habiskan, melainkan hanya setengahnya saja, karena ia merasa ada rasa yang tak biasa dari makanan khas Jepang tersebut. Selang dua jam kemudian, ia mendadak merasakan mual dan pusing yang tak tertahankan.
“Jujur, saya sempat muntah namun saya kira hanya masuk angin. Namun setelah buka HP, ternyata di grup sekolah ada keracunan usai makan MBG. Berarti yang saya pun rupanya keracunan,” tutur Erika.
Kondisi Erika berangsur membaik setelah ditangani tim medis RSUD Cibabat. Ia tak menyangka menu MBG yang dikonsumsinya justru berujung di ruang perawatan. Tak hanya Erika, tercatat ada 42 siswa lain dari sejumlah sekolah yang turut menjadi korban keracunan serupa.
“Alhamdulillah sekarang sudah lumayan segar. Sudah tak mual dan pusing lagi serta tak muntah lagi. Kata dokter menyuruh istirahat dulu beberapa hari,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira menyebut pihaknya telah memanggil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan menu MBG ke sekolah-sekolah tersebut. “Ya sudah dipanggil langsung, kemudian kita tegur kenapa bisa kejadian seperti ini. Kita minta penjelasannya juga,” kata Adhitia.
Sampel makanan tersebut telah dikirim ke Labkesda Jawa Barat untuk diuji secara klinis. Penyelidikan mendalam terkait penyebab pasti keracunan massal ini akan ditangani oleh pihak berwenang. “Yang sifatnya observasi atas penyebab, itu kita lakukan sesuai mekanisme. Sampel sudah dibawa dan sedang diuji, isinya itu apa yang tadi didistribusikan. Kita tunggu hasilnya seperti apa, kita fokus ke penanganan pasien yang bergejala,” kata Adhitia.*
















