TERASJABAR.ID – Suasana Idul Fitri di Jakarta Selatan tahun ini menghadirkan momen yang langsung menyita perhatian publik. Tiga tokoh nasional – Jusuf Kalla, Mahfud MD, dan Anies Baswedan shalat Ied bersama di Masjid Agung Al Azhar Sabtu, 21 Maret 2026.
Terpantau di lokasi sekitar pukul 06.20 WIB, Jusuf Kalla dan Mahfud MD tiba hampir bersamaan. Keduanya kemudian berjalan menuju saf paling depan, tempat Anies Baswedan sudah lebih dulu berada. Tanpa seremoni berlebihan, ketiganya langsung bergabung dengan jamaah lain, menciptakan pemandangan yang sederhana namun sarat makna.
Sejak subuh, kawasan sekitar masjid memang sudah dipadati jamaah. Area lapangan di sekitar Jl. Sisingamangaraja yang diperuntukkan bagi jamaah laki-laki terisi cepat, sementara jamaah perempuan menempati area belakang hingga sisi-sisi jalan di sekitar masjid.
Petugas keamanan tampak berjaga di sejumlah titik, memastikan arus jamaah tetap tertib. Sementara itu, panitia terus mengingatkan jamaah untuk mengisi saf terdepan terlebih dahulu sebelum membuat barisan baru di belakang.
Kepala Kantor Masjid, Tatang Komara, bahkan menyampaikan imbauan langsung dari mimbar agar jamaah menjaga kerapian saf. Shalat Id sendiri dijadwalkan dimulai sekitar pukul 07.00 WIB.
Di tengah kepadatan jamaah, aktivitas khas pagi Idul Fitri juga terlihat. Sejumlah pedagang menjajakan tikar dan koran untuk alas shalat, sementara jamaah yang sudah tiba lebih awal tampak menggelar perlengkapan mereka sebelum ibadah dimulai.
Momen ini menarik bukan hanya karena kehadiran tokoh-tokoh besar dalam satu saf, tetapi juga karena berlangsung dalam suasana yang relatif cair, tanpa sekat protokoler yang mencolok. Di ruang ibadah, perbedaan jabatan seolah melebur dalam satu barisan yang sama.
Namun kalau dilihat lebih jernih, peristiwa seperti ini seringkali ditafsirkan berlebihan sebagai sinyal politik. Padahal, tanpa pernyataan atau agenda jelas, ini tetaplah momen keagamaan—bukan forum negosiasi kekuasaan. Menarik, iya. Tapi menyimpulkan terlalu jauh justru berisiko menyesatkan pembacaan situasi.
Yang jelas, pagi itu di Al Azhar memperlihatkan satu hal sederhana: bahkan di tengah dinamika politik nasional, ruang-ruang kebersamaan seperti ini masih ada.










