TERASJABAR.ID – Sering berbohong bukan sekadar kebiasaan buruk, tetapi juga bisa menjadi tanda gangguan psikologis jika sulit dihentikan.
Selain itu, kebiasaan ini juga dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan, seperti stres berlebihan hingga tekanan darah tinggi.
Ada berbagai alasan seseorang sering berbohong, mulai dari ingin menghindari rasa tidak nyaman, mencari pengakuan, hingga ingin terlihat lebih baik di mata orang lain.
Dalam beberapa kondisi, kebohongan juga dilakukan sebagai “white lies” atau kebohongan kecil yang dianggap tidak merugikan.
Namun, jika dilakukan terlalu sering, kebiasaan ini bisa menjadi tanda adanya gangguan psikologis, seperti gangguan kepribadian ambang atau gangguan kepribadian antisosial.
Bahkan, gangguan pada otak akibat cedera atau ketidakseimbangan hormon juga diduga dapat memicu seseorang lebih sering berbohong.
Orang yang sering berbohong biasanya menunjukkan perubahan dalam bahasa tubuh dan ekspresi wajah.
Misalnya, menghindari kontak mata, terlihat gelisah, nada suara tidak konsisten, atau memberikan terlalu banyak detail yang tidak penting.
Namun, tanda-tanda ini tidak selalu menjadi bukti pasti karena setiap orang memiliki kebiasaan yang berbeda saat berbicara.
Selain berdampak pada hubungan sosial, kebiasaan sering berbohong juga dapat memengaruhi kesehatan.
Stres yang muncul akibat kebohongan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, gangguan kecemasan, depresi, hingga menurunnya daya tahan tubuh.
Bahkan, dalam jangka panjang, seseorang bisa kesulitan membedakan antara fakta dan kebohongan serta kehilangan kepercayaan dari orang lain.
Untuk menghentikan kebiasaan ini, penting untuk mengenali penyebabnya dan mulai membiasakan diri berkata jujur.
Jika kebiasaan tersebut sudah sulit dikendalikan, sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater agar mendapatkan penanganan yang tepat.-***













