Oleh: ReO Fiksiwan
„Tidak ada kebanggaan dalam sejarah maskulin yang merampas separuh umat manusia dari tempat yang layak, dari martabat siapa dan apa mereka.” — Hamid Dabashi(74), Iran: A People Interrupted(2007).
Hari ini Iran berdiri di tengah pusaran sejarah yang kembali berulang dalam bentuk perang dan krisis.
Sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, negeri itu belum pernah keluar dari bayang-bayang kekerasan.
Serangan awal yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi Iran segera memicu balasan dengan rudal dan drone yang diarahkan ke Israel serta pangkalan-pangkalan AS di Teluk.
Ribuan titik di Iran dihantam serangan udara, termasuk fasilitas produksi rudal dan pangkalan peluncuran, sementara Israel berani melancarkan serangan langsung ke Teheran.
Iran pun mengklaim berhasil membalas dengan serangan ke Tel Aviv dan Kiryat Shmona.
Korban jiwa mendekati dua ribu orang di Iran, dengan tambahan korban di Israel, AS, dan negara-negara Teluk.
Infrastruktur energi menjadi sasaran utama, menyebabkan harga minyak melonjak tajam dan memperburuk krisis pasokan global.
Ekonomi Teluk terguncang, ancaman resesi membayangi, dan Selat Hormuz yang vital bagi perdagangan minyak dunia berada di ambang blokade.
Upaya diplomasi memang mulai muncul, dengan Presiden AS Donald Trump menyusun rencana lima belas poin melalui mediator regional, tetapi Iran menolak tuntutan yang dianggap berlebihan.
Jeda serangan hanya bersifat sementara, dan perang tetap berlanjut.
Dalam refleksi kritis, kondisi Iran hari ini dapat dibaca melalui lensa pemikiran Hamid Dabashi, seorang intelektual Iran-Amerika.
Hamid Dabashi adalah seorang akademisi Iran-Amerika kelahiran 15 Juni 1951 di Ahvaz, Iran, yang kini berusia 74 tahun dan aktif sebagai profesor kajian Iran dan sastra perbandingan di Universitas Columbia, New York.
Ia dikenal luas sebagai penulis, kritikus budaya, dan pemikir postkolonial dengan lebih dari dua puluh buku yang telah diterbitkan.
Dabashi menempuh pendidikan awal di Iran sebelum melanjutkan kuliah di Universitas Tehran, lalu pindah ke Amerika Serikat untuk meraih gelar Ph.D ganda dalam Sosiologi Kebudayaan dan Studi Islam di Universitas Pennsylvania pada 1984.
Disertasinya ditulis di bawah bimbingan Philip Rieff, seorang kritikus budaya Freudian terkemuka. Setelah itu ia menjalani postdoktoral di Harvard University.
Karier akademiknya kemudian berkembang di Columbia University, di mana ia menduduki jabatan bergengsi sebagai Hagop Kevorkian Professor of Iranian Studies and Comparative Literature, kursi tertua dan paling prestisius di bidang tersebut.
Sebagai pemikir, Dabashi dikenal dengan gagasan-gagasan seperti Trans-Aesthetics, Radical Hermeneutics, Anti-colonial Modernity, dan Phantom Liberties. Minat utamanya meliputi teologi pembebasan, teori sastra, estetika, teori budaya, serta sosiologi kebudayaan.
Ia juga aktif menulis tentang sinema Iran dan Palestina, serta mengedit volume penting seperti Dreams of a Nation: On Palestinian Cinema.
Untuk menyimak karakter politik dan budaya Iran terkini, Dabashi telah menulis Iran: A People Interrupted pada 2007.
Dalam buku ini, ia menolak pandangan klise yang menyederhanakan Iran sebagai bangsa yang terjebak antara tradisi Islam dan modernitas Barat.
Dikutip Dabashi berargumen:
„Saya menulis buku ini untuk meyakinkan orang agar meninggalkan kategorisasi klise tentang Iran sebagai negara yang terjebak antara tradisi yang keras dan modernitas asing, dan sebaliknya mengadopsi pembacaan yang lebih bernuansa historis, multifaset secara budaya, dan berlandasan material.”
Dabashi juga menolak cara pandang yang menyederhanakan Iran sebagai bangsa yang selalu berada dalam tarik-menarik antara Islam dan Barat.
Ia menekankan bahwa identitas Iran tidak bisa dipahami hanya melalui dikotomi tradisi versus modernitas, melainkan sebagai hasil dari sejarah panjang yang penuh dinamika politik, sosial, dan intelektual.

















