TERASJABAR.ID – Pendidikan harus dimaknai sebagai proses membangun karakter dan peradaban, bukan sekadar penyampaian materi pelajaran.
Hidden curriculum melalui pembiasaan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari di sekolah adalah kunci dalam membangun sekolah yang aman dan nyaman.
Adapun pendekatan yang digunakan harus bersifat mendidik dan bebas dari kekerasan. Sebagaimana tertuang dalam Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 Tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Budaya sekolah aman dan nyaman adalah keseluruhan tata nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku yang dibangun di lingkungan sekolah untuk menjamin pemenuhan kebutuhan spiritual, pelindungan fisik, kesejahteraan psikologis dan keamanan sosiokultural, serta keadaban dan keamanan digital demi menciptakan dan menjaga lingkungan belajar yang kondusif bagi warga sekolah.
Dalam membangun karakter, satuan pendidikan dituntut untuk menghadirkan pembelajaran yang memuliakan manusia sebagai inti dari penataan fondasi belajar.
“Kata kunci dalam pembelajaran di sekolah adalah memuliakan. Guru harus memuliakan murid, murid menghormati guru, dan keduanya memuliakan ilmu,” ucap Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, di Pekalongan, Jawa Tengah.
“Pendidikan itu adalah proses membangun karakter dan peradaban bangsa. Karena itu, guru tidak hanya menjadi agent of learning, tetapi harus menjadi agent of civilization,” imbuhnya di hadapan forum yang dihadiri sekitar 200 kepala sekolah serta guru di wilayah Pekalongan.
Saat menjadi pembicara kunci dalam dialog pendidikan yang bertemakan “Menata Fondasi Belajar: Menciptakan Sekolah Aman, Nyaman, dan Bermartabat bagi Guru dan Siswa”, ia menyampaikan bahwa upaya menciptakan sekolah yang aman dan nyaman dilakukan melalui pendekatan deep learning yang mendorong pembelajaran mindful, meaningful, dan joyful.
















