Oleh:Aguk Irawan MN
Iran hari ini mungkin sebuah bangsa antitesis. Bayangkan, tanpa kartu kredit internasional, tanpa bank kelas dunia, tanpa supermarket waralaba global, dan nyaris tanpa produk impor, mereka bertransformasi menjadi bangsa yang “mandiri”. Empat puluh tujuh tahun sudah dunia mencoba mengurungnya dalam jeruji embargo, namun Iran adalah anomali yang indah—sebuah negeri yang memilih untuk “menjadi” di saat dunia memaksanya untuk “tiada”.
Restoran-restoran internasional ala Barat perlahan surut, digantikan oleh kedai-kedai lokal yang menyajikan Kebab Koobideh dengan aroma safron yang menggiurkan. Pemimpin datang dan pergi, bahkan dirongrong dari dalam, namun dari puing-puing tekanan itu, tumbuh generasi baru—generasi militan yang terdidik dari universitas dalam negeri, bukan dari Eropa.
Mereka sadar, kemandirian adalah harga mati. “Sejarah” pengepungan di tepian sungai Zayanderud yang melintasi Isfahan “ditenun” dengan benang-benang sutra dan wol terbaik. Ketika awan gelap embargo Barat menggantung lebih dari empat dekade, uang Rial Iran rontok tak berharga, negeri ini tidak tumbang. Ia justru menenun takdirnya sendiri.
Di pasar-pasar tradisional, Karpet Tabriz dan Isfahan—yang terkenal dengan simpul ganda, corak kerawang dan benang sutra murni—dijual dengan harga “murah” bagi pengunjung luar. Kerajinan tembaga dari Zanjan berkilau seperti menantang cahaya, membuktikan bahwa tangan-tangan lokal lebih tajam daripada mesin-mesin Barat. Semua itu seperti memberi “isyarah” bahwa warisan Persia tidak bisa dibekukan oleh sanksi.
Sementara itu, ketika Iran “hening” oleh isolasi, lahir karya sastra adiluhung yang diakui dunia.
Sastra Iran terus berkembang lewat puisi-puisi yang mengalir dari nafas Rumi dan Hafez yang diperbarui, menyusul jejak Shirin Ebadi (Peraih Nobel Perdamaian 2003) dan menarasikan perlawanan yang damai, namun tajam seperti Narges Mohammadi (Peraih Nobel Perdamaian 2023).
Di layar perak, film-film mereka menyihir juri Oscar, seperti A Separation karya Asghar Farhadi yang menyabet Piala Oscar Film Berbahasa Asing Terbaik. Itu adalah bukti bahwa seni Iran tumbuh melampaui batas sensor. Sihir berikutnya, ada di balik dinding perindustrian mereka. Drone-drone canggih yang ditakuti Barat diproduksi sendiri dengan biaya rendah namun berdampak strategis tinggi. Kerajinan tembaga yang ditempa tangan menjadi simbol bahwa teknologi tinggi dan seni tradisional bisa berjalan berdampingan.
Iran, dengan cerdik, menghukum siapa pun yang menjalin hubungan ekonomi dengan musuh mereka. Namun, hukuman itu adalah “pelukan” bagi Rusia, Cina, dan Korea Utara. Mereka membangun koalisi permanen, senasib sepenanggungan, menciptakan kekuatan tandingan yang membuat NATO berpikir dua kali untuk bertindak gegabah.
Inilah perpaduan sinergis yang dirawat telaten: Agama, Ilmu, dan Amal. Islam di Iran tidak hanya ada di masjid, madrasah dan majelis ta’lim, tapi juga ada dalam buku-buku sastra dan akademiknya, ada dalam sistem kaderisasi militer dan sainsnya. Ketika intelektual-intelektual Iran yang sempat belajar di Barat ditarik kembali ke “kandang” pada era 80-an, mereka membawa kunci teknologi barat—khususnya militer—dan menyedotnya ke dalam rahim industri domestik.
Dan, kini ketika perang terjadi satu bulan satu minggu lebih, narasi Iran tak hanya soal bertahan, tapi justru mendikte lawan-lawannya. Jadi, Iran telah mengajarkan kita, bahwa saat dunia mencoba memadamkan cahayanya, ia jadi “pelita” bagi kegelapan dan mampu memancarkan cahayanya sendiri. Iran adalah bukti bahwa sebuah bangsa tidak ditentukan oleh berapa banyak produk impor yang mereka konsumsi, melainkan oleh seberapa kuat akar mereka tertanam di tanah sendiri.
Mereka mungkin seperti pohon zaitun yang meski dihimpit batu besar, akarnya tetap menembus bumi dan buahnya tetap memberi “gizi” bagi mereka yang berani melawan arus. Ia kini tetap eksis, menawan, dan kini terbukti mandiri dan perkasa, ia tumbuh bukan karena bantuan asing, melainkan karena ia memilih untuk menjiwai nasibnya sendiri. Indonesia, ayo kita belajar, Anda pasti bisa, tidak perlu terlalu takut dengan tekanan! Wallahu’alm. (Aguk Irawan MN)










