TERASJABAR.ID – Anggota Komisi IV DPR RI, Sumail Abdullah, menyoroti kecenderungan pelaku usaha yang lebih memilih mengekspor benih bening lobster (BBL) ketimbang mengembangkan sektor budidaya di dalam negeri.
Ia menjelaskan bahwa wilayah selatan Pulau Jawa, yang termasuk daerah pemilihannya, merupakan salah satu sentra utama produksi benih lobster.
Namun, menurutnya, terjadi ketimpangan antara kebutuhan untuk budidaya domestik dengan dorongan ekspor yang semakin besar.
Sumail menilai banyak pelaku usaha lebih fokus pada eksploitasi benih lobster dibanding membangun sistem budidaya yang berkelanjutan.
Alasan yang kerap muncul adalah kekhawatiran nasib para penangkap benih jika hasil tangkapan tidak terserap oleh sektor budidaya.
Politisi dari Fraksi Partai Gerindra itu mengingatkan agar arah kebijakan tidak hanya berorientasi pada ekspor, melainkan juga mendorong peningkatan nilai tambah melalui budidaya dalam negeri.
Hal ini sejalan dengan visi pemerintahan Prabowo Subianto yang ingin meningkatkan nilai ekonomi komoditas sebelum dipasarkan ke luar negeri.
Ia mengungkapkan bahwa harga benih lobster relatif rendah, sekitar Rp10 ribu per ekor, sementara harga ekspor bisa mencapai Rp16 ribu hingga Rp30 ribu tergantung pasar, termasuk Vietnam.
Meski demikian, budidaya di Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi waktu produksi yang lebih lama dibanding negara lain. Kondisi ini membuat daya saing menjadi lebih rendah.
Sumail menegaskan bahwa aspirasi nelayan dan pembudidaya akan menjadi bahan pertimbangan DPR untuk merumuskan kebijakan yang mampu menyeimbangkan ekspor dan penguatan budidaya nasional demi kesejahteraan masyarakat.-***

















