TERASJABAR.ID – Dunia penyiaran Priangan Timur sedang mencari arah baru. Lewat forum “Nyemah Atikan Penyiaran Regulasi Konten dan Masa Depan Penyiaran di Priangan Timur”, para pegiat media, mahasiswa, dan praktisi duduk bareng membedah satu hal : pentingnya konten lokal.
Menariknya, forum ini tidak terjebak membahas pasal-pasal regulasi. Fokusnya justru ke depan. Bagaimana konten lokal Priangan Timur bisa tumbuh, dikelola, dan jadi tuan rumah di daerahnya sendiri.
Asosiasi Pers Mahasiswa (APM) hadir sebagai salah satu penggerak. Mereka mengajak semua pihak untuk berkolaborasi, “Kita tidak hanya bicara regulasi. Kita memandang ke depan. Bagaimana konten lokal dikelola dengan baik, punya kualitas, dan berdampak,” ujar ujar ketua APM Priangan Timur Muhammad Al Irvan Ukasah, Selasa(21/4/2026)
Menurut dia, selama ini, konten lokal sering kalah bersaing dengan arus informasi dari pusat. Padahal, Priangan Timur punya kekayaan cerita yang luar biasa. Seperti Budaya, sejarah, potensi ekonomi, hingga suara anak muda di pelosok desa. Semuanya layak naik ke layar dan frekuensi.
Sebagai insan pers, media punya peran mendorong lahirnya konten lokal yang kuat. Bukan sekadar jadi penyambung informasi, melainkan juga kurator dan mentor. Pers bisa membantu komunitas, kampus, hingga penyiar pemula untuk belajar produksi, memahami etika, dan menjaga kualitas.
Tantangannya jelas, bagaimana mengelola konten agar tidak berhenti di viral sesaat. Butuh ekosistem. Butuh kolaborasi antara kampus, media arus utama, komunitas kreatif, dan pemerintah.
Nyemah Atikan Penyiaran jadi langkah awal. Forum ini mengingatkan bahwa masa depan penyiaran Priangan Timur ada di tangan orang-orangnya sendiri. Jika konten lokal dikelola serius, maka identitas daerah tidak akan hilang ditelan algoritma,”katanya
LP Sudah Patuh
KPID Provinsi Jawa Barat Dr. Adiyana Slamet, S. IP., M. Si menyampaikan kondisi dunia penyiaran di Priangan Timur hingga kini belum benar-benar menjadi tempat berlabuh masyarakat.
“Kalau soal kepatuhan, saya pikir lembaga penyiaran sudah patuh. Cuma problemnya, lembaga penyiaran tidak bisa sendirian mencegah disfungsi informasi yang menggempur aspek kebudayaan,” ujarnya.
“Karena itu, KPID menggandeng Asosiasi Pers Mahasiswa (APM) untuk berkolaborasi. Tujuannya jelas memproduksi konten lokal yang taat regulasi. “Paling tidak, anak-anak pers mahasiswa ini bisa mengembangkan program-program lokal di Priangan Timur untuk sistem siaran jaringan,” katanya.
Lebih jauh, Ketua KPID menyebut kolaborasi ini penting untuk menahan laju disrupsi informasi yang mengonstruksi sosial dan kebudayaan. Terutama nilai-nilai kesundaan yang hidup di Priangan Timur.
“Ini yang diharapkan. Karena benteng itu tidak hanya KPID sebagai lembaga negara dan lembaga penyiaran, tapi tanggung jawab kita semua. Terutama kawan-kawan pers mahasiswa di Priangan Timur,” tegasnya.
Pernyataan itu diperkuat hasil riset KPID terhadap 601 responden di 6 klaster. Salah satu klaster riset berada di Priangan Timur dengan pendekatan panca gatra dan psikologi. Dari riset itu, aspek sosial budaya jadi sorotan.
“Lebih dari 50 persen responden mengatakan media sosial merusak nilai budaya. Terjadi pergeseran nilai someah, gotong royong, kolektivitas. Sekarang lebih ke individual, homo, dan tidak peduli pada sekitar. Konteks interaksi juga lebih didominasi gen-Z,” ungkapnya.
Ketua KPID menegaskan, kondisi ini jadi tantangan serius bagi dunia penyiaran. “Lagi-lagi, penyiaran jadi catatan penting. Penyiaran adalah pilar untuk menjaga semuanya, termasuk ketahanan nasional,” tutupnya.
Lewat kolaborasi dengan pers mahasiswa, KPID berharap konten lokal Priangan Timur tidak hanya hadir, tapi juga kuat. Taat aturan, relevan dengan masyarakat, dan mampu jadi benteng nilai kesundaan di tengah gempuran informasi.
Sedih
Sementara itu, Wakil Walikota Tasikmalaya, Rd. Diky Candranegara, mengaku sempat sedih melihat minimnya perhatian ke Priangan Timur. Namun, kehadirannya di forum penyiaran membuatnya kembali optimistis.
“Awalnya sangat sedih karena perhatian ke Priangan Timur agak kurang. Tapi dengan adanya acara ini saya cukup optimistis. Insyaallah Priangan Timur kembali diperhatikan dan mudah-mudahan ini jadi awalan baik untuk hal lainnya,” ujar Diky.
Ia berharap ke depan kolaborasi makin kuat dari berbagai sisi. Termasuk kerja sama yang diinisiasi KPID Jawa Barat maupun Dinas Kominfo Provinsi Jawa Barat. Menurutnya, sinergi lintas lembaga penting agar Priangan Timur tidak tertinggal.
Diky juga menitipkan pesan khusus kepada para pemimpin di Priangan Timur, Jawa Barat, bahkan Indonesia. Ia meminta agar pers daerah dan pers lokal lebih dihargai.
“Karena kebanyakan dari mereka, tanpa diminta tanpa disuruh pun, akan mengangkat segala macam yang ada di daerah. Jadi kerja sama para pemimpin daerah di manapun harus bisa berjalan dengan media lokal. Merekalah yang lebih memahami kondisi dan tempat yang ada,” tegasnya.*


















