TERASJABAR.ID – Amerika Serikat dan Iran dikabarkan hampir mencapai kesepakatan awal berupa memorandum singkat untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk.
Informasi ini berasal dari sumber yang terlibat dalam mediasi Pakistan, serta diperkuat oleh pihak lain yang mengetahui jalannya perundingan.
Dari pihak Iran, muncul sinyal bahwa Selat Hormuz berpeluang dibuka kembali setelah ancaman dari pihak yang dianggap agresor mereda.
Hal ini memunculkan harapan baru bagi pemulihan distribusi energi global.
Sementara itu, Donald Trump menyatakan bahwa perang dapat dihentikan apabila Teheran menyetujui kesepakatan yang sedang dibahas, meskipun ia tidak merinci isi proposal tersebut.
Rancangan kesepakatan disebut mencakup 14 poin penting, di antaranya penghentian konflik, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi Amerika Serikat, serta pembatasan program nuklir Iran.
Jika disetujui, kedua negara akan memasuki tahap negosiasi lanjutan selama 30 hari guna mencapai kesepakatan yang lebih komprehensif.
Perkembangan ini langsung berdampak pada pasar global.
Harga minyak mentah Brent turun signifikan hingga sekitar 98 dolar AS per barel, sementara pasar saham menguat dan imbal hasil obligasi melemah, mencerminkan optimisme investor terhadap kemungkinan berakhirnya konflik.
Namun, sejumlah isu penting masih belum terselesaikan, termasuk program rudal Iran dan dukungannya terhadap kelompok proksi di kawasan.
Selain itu, belum ada kepastian terkait stok uranium Iran yang telah diperkaya.
Di tengah proses tersebut, AS juga menangguhkan sementara operasi “Project Freedom”, sementara Iran menyatakan siap membuka jalur pelayaran dengan aturan baru yang belum dijelaskan secara rinci.-***


















