TERASJABAR.ID – Gugus tempur kapal induk Prancis dilaporkan bergerak ke arah selatan Terusan Suez menuju Laut Merah sebagai bagian dari persiapan kemungkinan misi bersama Prancis dan Inggris di kawasan Selat Hormuz.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan hal tersebut pada Rabu (6/5), menegaskan bahwa pengerahan ini dilakukan untuk mendukung stabilitas keamanan maritim.
Langkah tersebut menempatkan kekuatan laut utama Eropa lebih dekat ke salah satu jalur pelayaran strategis dunia, yang saat ini menjadi titik ketegangan akibat konflik di Iran.
Situasi tersebut telah menyebabkan gangguan besar pada lalu lintas kapal dan memicu lonjakan risiko di sektor energi global.
Macron menjelaskan bahwa pengerahan kapal induk bertenaga nuklir Charles de Gaulle beserta armadanya merupakan bagian dari rencana kerja sama Prancis-Inggris untuk mengembalikan keamanan di Selat Hormuz ketika kondisi memungkinkan.
Ia menekankan bahwa tujuan utama operasi ini adalah menciptakan kembali kepercayaan bagi perusahaan pelayaran dan asuransi, meskipun tetap berbeda dari pihak-pihak yang terlibat konflik.
Dalam komunikasinya melalui platform X, Macron juga menyatakan bahwa stabilitas di Selat Hormuz dapat membantu membuka jalan bagi negosiasi terkait isu nuklir, rudal balistik, dan situasi kawasan.
Ia menambahkan bahwa Eropa akan turut berperan dalam upaya tersebut.
Juru bicara militer Prancis, Kolonel Guillaume Vernet, menjelaskan bahwa koalisi yang melibatkan Prancis, Inggris, dan lebih dari 50 negara belum akan diaktifkan sebelum kondisi tertentu terpenuhi, yakni menurunnya ancaman terhadap pelayaran serta meningkatnya kepercayaan industri maritim.
Meski begitu, Vernet menegaskan bahwa setiap operasi tetap memerlukan persetujuan negara-negara di kawasan, termasuk Iran.
Ia menekankan bahwa posisi Prancis bersifat defensif dan sesuai hukum internasional.
Saat ini, premi asuransi risiko perang di Selat Hormuz dilaporkan melonjak tajam, membuat banyak kapal enggan melintas.
Washington sendiri tidak terlibat dalam inisiatif Prancis-Inggris tersebut, yang dinilai sebagai bentuk “koalisi sukarelawan” Eropa.
Prancis juga telah mengerahkan kekuatan militernya sejak awal konflik, termasuk kapal perang, fregat, kapal serbu, serta pesawat tempur Rafale di kawasan Teluk untuk mendukung keamanan















