TERASJABAR.ID – Roberto Baggio kembali memberikan wawancara panjang yang jarang terjadi, membahas berbagai aspek kehidupannya, mulai dari perjalanan karier, final Piala Dunia 1994, hubungannya dengan Diego Maradona dan Alessandro Del Piero, hingga keluarga serta keyakinannya.
Ia juga menyoroti kondisi sepak bola Italia saat ini dengan kritik bahwa “anak-anak tidak lagi bermain di jalanan”.
Dalam wawancara bersama Corriere della Sera tersebut, yang dilakukan sebagai bagian dari promosi autobiografi terbarunya berjudul Luce nell’oscurità , Baggio kembali mengenang momen paling menyakitkan dalam kariernya: kegagalan penalti di final Piala Dunia 1994 melawan Brasil.
Ia mengaku masih merasakan beban emosional atas kejadian itu.
“Saya merasa seolah membawa rasa bersalah seluruh rakyat Italia. Saya ingin menghilang saat itu. Rasa malu yang luar biasa masih tertinggal hingga sekarang. Ia menambahkan bahwa meski waktu berjalan, kenangan tersebut tetap menjadi luka yang belum sepenuhnya sembuh,” ujarnya, dikutip dari Football Italia pada Minggu, 10 Mei 2026.
Baggio juga menyebut bahwa momen tersebut masih sering muncul dalam pikirannya.
“Kadang saat malam dan sulit tidur, saya terbayang mencetak gol itu, lalu akhirnya saya tertidur,” katanya.
Menurutnya, ada dua hal yang membantunya bangkit dari masa sulit tersebut, yaitu keluarga dan spiritualitas.
Ia menjelaskan bahwa keyakinannya bukan semata pada konsep Tuhan eksternal, melainkan pada kekuatan batin manusia yang harus ditemukan dan dijaga.
Ia juga menyinggung agama Buddha yang dianutnya sebagai sumber ketenangan.
Keyakinan itu, menurutnya, membantu membentuk karakter, memberikan kekuatan di masa sulit, serta mendorongnya untuk tidak menyerah.
Dalam sisi kehidupan pribadi, Baggio mengenang hubungannya dengan Andreina, pasangan masa kecilnya.
Ia menceritakan bagaimana hubungan mereka berkembang sejak masa muda hingga akhirnya bertunangan setelah sempat berpisah sementara karena karier sepak bolanya.
Baggio juga mengingat kepindahannya dari Fiorentina ke Juventus pada 1990 yang saat itu memecahkan rekor transfer dunia.
Ia mengaku sangat terpukul karena transfer tersebut memicu kemarahan besar dari fans Fiorentina hingga terjadi kerusuhan di Florence.
Ia merasa bersalah meski tidak menginginkan kepindahan itu.
Ia turut mengenang sejumlah figur besar dalam sepak bola, termasuk Alessandro Del Piero yang disebut memiliki hubungan dekat dengannya, serta Ronaldo yang menurutnya sangat ia simpati karena cedera parah yang dialami.
Tentang Diego Maradona, Baggio menyebutnya sebagai sosok luar biasa yang rendah hati, serta mengingat momen kebersamaan mereka saat berada dalam satu penerbangan dan bermain sepak bola di udara pada ketinggian 10.000 meter.
Di akhir pembicaraan, Baggio menyoroti kondisi sepak bola Italia yang menurutnya sedang bermasalah, terutama setelah kegagalan lolos ke Piala Dunia tiga kali berturut-turut.
Ia menilai minimnya pemain muda yang berkembang serta berkurangnya anak-anak yang bermain sepak bola di jalanan menjadi salah satu penyebabnya.
Ia menegaskan perlunya sistem yang lebih kuat untuk memberi ruang bagi pemain muda Italia agar berkembang, dilindungi, dan dipercaya tampil di level tertinggi.-***











