TERASJABAR.ID – Ratusan warga Kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut, diduga menjadi korban penipuan berkedok penyaluran tenaga kerja program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan katering ilegal, Senin(11/5/2026)
Warga mendatangi rumah kontrakan yang diduga menjadi tempat perekrutan tenaga kerja MBG dan katering di wilayah Cibiuk. Kedatangan mereka untuk meminta kejelasan soal pekerjaan yang dijanjikan pihak penyalur.
Para korban mengaku sudah menyetorkan uang dengan jumlah bervariasi kepada oknum perekrut. Uang itu disebut untuk biaya seragam, BPJS, dan administrasi kerja. Namun hingga kini pekerjaan yang dijanjikan belum ada.
Besaran uang yang diminta berbeda-beda, mulai dari Rp100.000, Rp250.000, Rp500.000, Rp2,5 juta, hingga belasan juta rupiah. Lokasi perekrutan dan tempat kerja yang dijanjikan juga terus berpindah, mulai dari Sukadana, Ciaro, Limbangan, hingga Bandrek. Setiap kali ditanya, alasan yang diberikan adalah penundaan.
Beberapa korban dijanjikan mulai bekerja pekan lalu. Namun saat datang ke lokasi, tidak ada kepastian. Mereka mengaku takut melapor ke polisi karena diancam uang tidak akan dikembalikan jika kasus dibawa ke jalur hukum.
Kapolsek Cibiuk, Karisman, membenarkan adanya aduan dari masyarakat. “Laporan kami terima dari Ketua RT dan RW setempat terkait aktivitas perekrutan kerja yang menjanjikan penempatan di MBG dan katering. Jika ingin diproses hukum silakan melapor, akan kami fasilitasi. Saat ini masih dilakukan mediasi,” ujarnya.
Menurut keterangan warga, korban berasal dari berbagai desa di Kecamatan Cibiuk. Mereka tertarik karena dijanjikan pekerjaan tetap dengan proses cepat. Setelah uang diserahkan, pekerjaan tak kunjung ada dan pihak perekrut sulit dihubungi.
“Bilangnya untuk biaya administrasi dan jaminan masuk kerja. Banyak yang percaya karena infonya dari mulut ke mulut,” kata salah satu korban.
Aparat kepolisian terlihat berjaga di lokasi untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Tokoh masyarakat meminta kasus ini segera ditangani agar tidak menimbulkan keresahan. Warga berharap uang bisa kembali dan pelaku diproses hukum.
Hingga kini belum ada data resmi jumlah korban dan total kerugian. Polisi masih melakukan pendataan dan penyelidikan terkait dugaan penipuan penyaluran kerja tersebut.(KRIS)














