TERASJABAR.ID – Donald Trump meninggalkan China pada Jumat setelah menghadiri pertemuan puncak yang telah lama dinantikan dengan Presiden Xi Jinping.
Pertemuan tersebut berlangsung penuh kemegahan dan diwarnai janji stabilitas, namun minim hasil konkret yang signifikan.
Trump memasuki dialog dua hari itu di Beijing dalam posisi yang dinilai melemah akibat konflik berkepanjangan di Iran.
Dalam kondisi tersebut, ia dianggap belum mampu mengubah persepsi global terkait posisi Amerika Serikat di panggung internasional.
Sebaliknya, Xi Jinping tampil lebih tegas, terutama dalam menyampaikan pandangannya terkait Taiwan.
Sementara itu, Trump tidak memberikan respons kuat atas pernyataan tersebut.
Dalam pernyataan penutupnya, Trump mengklaim kedua negara telah mencapai kesepakatan perdagangan yang besar, meski rincian kesepakatan masih belum jelas.
Ia juga menyebut berbagai isu berhasil diselesaikan selama pertemuan berlangsung.
Namun sejumlah pengamat menilai pertemuan tersebut lebih bersifat simbolis dibanding menghasilkan terobosan nyata, termasuk dalam isu Iran, Taiwan, maupun persaingan teknologi seperti AI.
Trump kemudian menuliskan di media sosial bahwa Amerika Serikat juga seharusnya memiliki ruang pertemuan megah seperti di China, menyinggung rencana pembangunan fasilitas di Gedung Putih.
Di sisi lain, tekanan politik dalam negeri tetap membayangi kepulangannya, terutama terkait konflik Iran dan peran China sebagai pembeli utama minyak Iran.
Isu Selat Hormuz juga menjadi salah satu topik pembahasan antara kedua pemimpin.
Gedung Putih menyatakan bahwa kedua pihak sepakat pentingnya menjaga jalur energi global tetap terbuka.
China sendiri menegaskan kembali sikapnya yang menolak militerisasi kawasan tersebut.
Trump juga menyebut kemungkinan mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap perusahaan China yang membeli minyak Iran, setelah mendapat jaminan dari Xi terkait kerja sama militer.
Sementara itu, Beijing menegaskan bahwa konflik Iran bukan sepenuhnya tanggung jawab China dan menyerukan gencatan senjata di kawasan tersebut.
Isu Taiwan menjadi sorotan utama lainnya dalam pertemuan itu.
Xi memperingatkan potensi konflik jika isu tersebut tidak ditangani dengan baik, sementara Trump menegaskan tidak ada perubahan dalam kebijakan AS.
Meski kunjungan tersebut diwarnai jamuan mewah dan simbol diplomatik yang kuat, banyak pihak menilai hasil nyata dari pembicaraan itu masih sangat terbatas.
Trump sendiri mengklaim telah mencapai berbagai kesepakatan, termasuk di sektor perdagangan, namun belum ada konfirmasi resmi dari pihak China.
Secara keseluruhan, pertemuan tersebut lebih banyak dianggap sebagai ajang diplomasi simbolis ketimbang menghasilkan keputusan strategis yang konkret bagi kedua negara.-***















