TERASJABAR.ID – Kiara Artha Park, Kota Bandung, menjadi titik awal dari sebuah momentum sejarah yang tak terlupakan bagi Tatar Sunda (urang Sunda). Gelaran Kirab Budaya Milangka Tatar Sunda “Nyuhun Buhun Nata Negara” memuncaki perjalanannya menuju Gedung Sate dalam sebuah kemegahan yang sungguh pantastis, sekaligus mengukuhkan komitmen pelestarian budaya.
Rute panjang yang dilalui Mahkota Binokasih, yang dimulai sejak 2 Mei 2026 lalu dari Museum Kabupaten Sumedang dan melintasi Kabupaten Ciamis, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kabupaten Karawang, hingga Kabupaten Cirebon, akhirnya mencapai puncaknya di Kota Bandung.
Seluruh pemimpin daerah dari kabupaten, kota, dan provinsi hadir dalam satu semangat kesatuan.
Terlihat di antaranya Bupati Purwakarta Om Zen, Bupati KBB Jeje dan para pemimpin dari Cirebon, Sukabumi, Bekasi, dan wilayah lainnya. Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, KDM, dinilai luar biasa karena berhasil mengangkat kembali seni budaya Sunda yang hampir lenyap ditelan zaman.
Sepanjang rute kirab, sederetan janur dan umbul-umbul menjulang tinggi, menghiasi jalan yang tertata dengan sangat apik.
Pemandangan ini memberikan kesan kemegahan tradisi yang kuat, menegaskan kembali betapa luar biasanya seni budaya Sunda untuk terus diangkat dan dilestarikan.
Kirab budaya ini menyuguhkan kolaborasi seni yang apik.
Kesenian tradisional Ondel-ondel persembahan dari DKI Jakarta, Reog Ponorogo dan perpaduan seni budaya dari Bali menyatu dalam harmoni, termasuk wayang golek raksasa.
Perpaduan ini menjadi simbol pemersatu dan persatuan Indonesia yang begitu kuat di era modern.
Yang membuat momentum ini semakin berdampak luas adalah interaksi digitalnya.
Di era digitalisasi saat ini, Kirab Budaya tidak hanya disaksikan secara offline oleh ratusan ribu pasang mata di lokasi, tetapi juga ditonton oleh jutaan masyarakat Indonesia dan rakyat di segala penjuru dunia secara online.
Berdasarkan pantauan, dari mana saja, siapa pun dapat menyaksikan sakralnya tradisi Sunda yang bangkit kembali membumi di Bumi Pertiwi.
Semangat modernisasi inilah, yang menjadi katalis bagi budaya kita untuk bersinar dan mendunia.
Kirab budaya ini berakhir dengan spektakuler di Gedung Sate, di mana para penonton disuguhkan penampilan luar biasa dari penyanyi legend Sunda, Doel Sumbang, dan seniman hebat lainnya.
Keberhasilan KDM dalam mengembalikan seni budaya Sunda untuk bersinar kembali, didukung sepenuhnya oleh warga menandai babak baru bagi kejayaan tradisi di era global.
Sejak sore memanģ masyarakat mulai berdatangan di sepanjang rute kirab.
Antusiasme warga kian terlihat saat rombongan budaya mulai melintas membawa beragam kesenian khas dari 27 kabupaten dan kota di Jabar.
Kegiatan kirab budaya tersebut menempuh rute sepanjang 3,5 kilometer.
Rombongan mulai perjalanan dari kawasan Kiara Artha Park, melintasi Jalan Jakarta dan Jalan Supratman, kemudian berakhir di kawasan Gedung Sate, Jalan Diponegoro.
Sorak sorai dan pekikan masyarakat terdengar ketika rombongan kirab mulai melintas.
Nuansa budaya Sunda terlihat melalui iringan musik tradisional, penampilan seni daerah, arak-arakan budaya, hingga hadirnya Mahkota Binokasih yang menjadi simbol kebesaran dan warisan budaya Sunda.
Gubernur Jabar Kang Dedi Mulyadi (KDM) telihat menunggang kuda putih dalam iring-iringan kirab dan menyedot perhatian masyarakat yang tumpah ruah.
Berbagai pertunjukan seni tradisional seperti wayang golek raksasa, tari daerah, kaulinan barudak, penampilan sinden, hingga musik tradisional berhasil memukau warga yang memadati area kirab.
Suasana Kota Bandung pun, termasuk di Kiara Artha Park berubah menjadi panggung budaya terbuka yang dipenuhi semangat pelestarian tradisi Sunda, termasuk Iis Rohaeti (60), warga Babakansari 1 RT 01 RW 06, Kelurahan Babakansari, Kecamatan Kiaracondong mengaku datang bersama suaminya demi menyaksikan langsung kirab budaya tersebut meski hanya di Kiara Artha Park tak sampai ke Gedung Sate.
Ya sengaja datang selesai magrib ke Kiara Artha Park jalan kaki bersama suami. Ingin melihat langsung Kang Dedi Mulyadi bersama kereta kencananya,” ujar Iis, Sabtu (16/5/2026).
Kegiatan budaya seperti Kirab Milangkala Tatar Sunda, kata Iis bukan hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga sarana memperkenalkan budaya Sunda kepada generasi muda.
Iis pun berharap pelaksanaan kegiatan serupa di masa mendatang bisa lebih tertata agar masyarakat semakin nyaman saat menyaksikan acara alias tak terjebak kemacetan dan tahun depan bisa digelar lagi.
Hal senada disampaikan, Asep Tohidin, S.H, Ketua RW 06 Kelurahan Babakansari, Kecamatan Kiaracondong Aji yang datang bersama istri dan anaknya untuk menikmati suasana kirab budaya di kawasan Kiara Artha Park
Ia mengaku terhibur dengan kemeriahan arak-arakan dan penampilan seni tradisional yang melintas di hadapan warga.
“Paling menarik lihat sinden dan arak-arakan budayanya, termasuk wayang golek raksasa. Bandung jadi terasa lebih hidup malam ini,” ujarnya.
Hanya, sejumlah pengunjung saat di temui Kiara Artha Park mempertanyakan, dengan Kirab Milangkala Tatar Sunda ini, apakah KDM akan mampu mengangkat, melestarikan dan mengembangkan budaya Sunda warisan leluhur yang nyaris punah.**

















