TERASJABAR.ID – Suasana biasanya formal berubah jadi forum terbuka. Polisi, TNI, kejaksaan, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, sampai pimpinan komunitas motor duduk bersama di Ruang Aula Mumun Surachman Polres Garut mendadak ramai, Selasa 19 Mei 2026. Tujuannya satu yakni cari solusi biar kelompok bermotor di Kabupaten Garut tidak berubah jadi sumber kejahatan jalanan.
Focus Group Discussion atau FGD bertema “Optimalisasi Pembinaan Kelompok Bermotor di Wilayah Hukum Polres Garut guna Mengantisipasi Kejahatan Jalanan dalam rangka Harkamtibmas” digelar Serdik Sespimma Polri Angkatan ke-75 Pokjar IV. Ini bukan sekadar diskusi formal dengan sambutan panjang dan laporan monoton. Ini ajang bongkar masalah langsung di depan pelaku dan pembina komunitas.
Focus Group Discussion atau FGD dihadiri oleh jajaran penting yang jarang duduk bersama dalam satu forum. Hadir Pawas Sespimma Polri Kombes Pol Grace Krisna D. Rahakbau, Kapolres Garut AKBP Yugi Bayu Hendarto, Wakapolres Kompol Deny Rahmanto, para Kabag, Kasat, dan Kasi Polres Garut. Dari luar kepolisian hadir Kepala Kejaksaan Negeri Garut, perwakilan Kodim 0611 Garut, Dinas Pendidikan Wilayah XI Jawa Barat , Bakesbangpol Garut, Satpol PP, Dinas Sosial, Dai Kamtibmas, tokoh masyarakat, hingga pimpinan komunitas motor dari berbagai wilayah di Kabupaten Garut.
Kapolres Garut AKBP Yugi Bayu Hendarto menegaskan, forum ini adalah wadah strategis untuk menyatukan langkah. Menurutnya, Polri tidak bisa kerja sendiri menjaga keamanan. Butuh sinergi nyata dengan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan komunitas motor untuk menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif.
“FGD ini jadi ruang buat kita semua untuk bicara terbuka. Polri butuh masukan langsung dari komunitas motor soal kondisi di lapangan. Dari situ kita bisa susun strategi pembinaan yang masuk akal dan efektif, bukan sekadar teori di atas kertas,” ujarnya saat membuka kegiatan.
FGD ini merupakan bagian dari agenda Serdik Sespimma Polri Pokjar IV TA 2026. Para serdik yang sedang menempuh pendidikan perwira menengah sengaja turun ke Garut untuk melihat langsung kondisi di lapangan.
“Yah kita Fokusnya bukan hanya menindak, tapi menggali akar masalah. Mereka ingin tahu apa yang bikin sebagian kelompok bermotor rawan terseret kejahatan jalanan, apa hambatan pembinaan selama ini, dan strategi apa yang realistis untuk dijalankan bersama, ” ucapnya
Di dalam forum, diskusi berjalan lancar dan tanpa ada sekat. Komunitas motor menyampaikan keluhan soal stigma negatif yang sering mereka terima. Banyak anggota komunitas merasa dipukul rata sebagai biang kerok kejahatan, padahal sebagian besar hanya ingin menyalurkan hobi otomotif dengan aman.
Dari sisi pemerintah, Dinas Pendidikan dan Bakesbangpol menyoroti minimnya ruang positif untuk menyalurkan energi anak muda, sedangkan dari Satpol PP dan Dinas Sosial menekankan pentingnya pendekatan sosial agar pembinaan tidak berhenti di atas kertas, “ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan Dai Kamtibmas dan tokoh masyarakat mengingatkan bahwa pendekatan moral dan agama juga penting untuk membentuk karakter anggota komunitas, ” Ujarnya
Sementara itu, aparat penegak hukum memaparkan data dan pola kejahatan jalanan yang sering melibatkan kelompok bermotor. Mulai dari tawuran antar geng motor, balapan liar di jalan raya, hingga aksi premanisme yang mengatasnamakan komunitas. Data ini jadi bahan diskusi untuk mencari pola pencegahan yang lebih cepat dan tepat sasaran.
Hasil diskusi diharapkan jadi bahan strategi pembinaan ke depan. Tujuannya jelas untuk menekan potensi tawuran, balapan liar, dan aksi kriminal lain yang sering mengatasnamakan komunitas motor. Sekaligus menumbuhkan kesadaran tertib hukum di tengah anggota komunitas agar mereka tidak lagi menjadi sasaran dan pelaku kejahatan jalanan.
“Karena Polres Garut percaya, kalau komunikasi dibuka lebar dan pembinaan dilakukan tepat sasaran, komunitas motor bisa jadi mitra kamtibmas yang kuat. Bukan jadi masalah, tapi jadi bagian dari solusi dan Ketika ruang dialog dibuka, kepercayaan tumbuh, dan dari kepercayaan itulah keamanan bisa dijaga bersama, “paparnya(Kris)












