TERASJABAR.ID – Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 di MTs Negeri 3 Kota Tasikmalaya tahun ini terasa berbeda. Di tengah upacara yang khidmat, Madrasah ini meluncurkan dua motif batik baru yang sarat filosofi. Karya ini bukan sekadar kain bermotif, tapi pesan visual untuk membakar semangat generasi muda menyongsong Indonesia Emas 2045.
Peluncuran dilakukan langsung di halaman madrasah, di Jalan Nagarakasih Kelurahan Kersanagara Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya, Selasa(20/5/2026).
Dua motif batik diperkenalkan satu untuk siswa, satu lagi untuk guru. Keduanya memadukan ikon khas Tasikmalaya dan Jawa Barat dalam satu tarikan kuas desain yang berani dan berwibawa.
Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Asep Rahmat, menjelaskan bahwa setiap goresan dalam batik siswa punya makna mendalam. Motif utamanya adalah konfigurasi payung, kujang, mega mendung, dan kelom geulis.
“Payung geulis dan kelom geulis itu identitas Kota Tasikmalaya, khususnya Cibeureum dan Tamansari. Kujang adalah senjata khas Jawa Barat yang melambangkan keberanian dan keteguhan. Mega mendung dipilih karena menggambarkan kedinamisan dan perlindungan,” jelas Asep.
Yang membuat batik siswa ini mencuri perhatian adalah pilihan warnanya. Gradasi biru muda mendominasi sebagai dasar, sementara payung diberi aksen kuning dan merah cerah.
“Warna cerah ini sengaja kami pilih. Kuning identik dengan Kota Tasikmalaya, sedangkan merah dan kuning yang mencolok melambangkan semangat, keberanian, dan motivasi generasi muda. Ini pesan kami: anak muda harus berani, tidak boleh takut bermimpi besar untuk menyongsong Indonesia Emas,” tegasnya.
Motif batik siswa didesain agar mudah dikenali, energik, dan membangkitkan rasa bangga pada identitas lokal. Harapannya, setiap kali siswa memakai batik ini, mereka diingatkan untuk terus bergerak, berkarya, dan menjaga jati diri sebagai warga Tasik dan warga bangsa.
Sementara itu, batik untuk guru hadir dengan karakter berbeda. Filosofinya sama: kujang, payung, kelom geulis, dan mega mendung tetap menjadi elemen utama. Namun gradasi warna dibuat lebih kalem dan kalem.
“Kalau batik siswa warnanya cerah dan mencolok, batik guru lebih kalem, lebih berwibawa. Ini melambangkan filosofi keteduhan, kewibawaan, dan keteladanan yang harus ditunjukkan seorang pendidik,” ungkap Asep.
Pemilihan warna yang lebih soft untuk guru bukan tanpa alasan. Di tengah semangat muda yang membara, guru diharapkan menjadi penyejuk, pembimbing, dan teladan yang meneduhkan. Konfigurasi motif tetap sama untuk menjaga benang merah antara guru dan murid sebagai satu kesatuan dalam proses pendidikan.
Proses pembuatan dua motif batik ini melibatkan seniman lokal Tasikmalaya. Tujuannya jelas yakni untuk melestarikan batik sebagai warisan budaya, juga menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat sekitar.
Peluncuran batik ini menjadi bagian dari rangkaian Harkitnas ke-118 di MTsN 3 Kota Tasikmalaya. Tema besar Harkitnas tahun ini, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara,” sejalan dengan pesan yang ingin disampaikan melalui batik tersebut.
Asep Rahmat berharap, batik ini tidak berhenti sebagai seragam. Ia ingin motif ini menjadi identitas, kebanggaan, dan pengingat bagi seluruh warga madrasah.
“Setiap kali melihat batik ini, siswa harus ingat bahwa mereka adalah tunas bangsa yang harus dijaga, dibina, dan diberi ruang untuk tumbuh. Guru juga harus ingat bahwa mereka adalah teladan yang ditunggu arah dan keteduhannya,” katanya.
Kehadiran dua motif batik ini juga diharapkan memperkuat kecintaan siswa terhadap budaya lokal. Di era digital yang serba cepat, identitas daerah sering kali tergerus. Melalui batik, MTsN 3 Kota Tasikmalaya ingin memastikan bahwa akar budaya tetap hidup di dada generasi muda.
Dengan kombinasi filosofi yang kuat, warna yang berbicara, dan makna yang relevan, batik MTsN 3 Kota Tasikmalaya berhasil menyampaikan pesan kebangkitan dengan cara yang elegan. Tidak perlu pidato panjang, kain bermotif ini sudah cukup untuk mengingatkan: masa depan bangsa ada di tangan generasi muda yang berani, berkarakter, dan tidak melupakan akarnya.
Peluncuran ini sekaligus menjadi bukti bahwa Madrasah bisa menjadi ruang inovasi budaya. Di sinilah semangat Harkitnas dihidupkan kembali, bukan hanya dalam upacara, tapi juga dalam setiap helai batik yang dikenakan dengan bangga.
Adapun peluncuran batik dihadiri Plh Walikota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara, Kapolsek Cibeureum dan jajaran guru di MTs 3 Kota Tasikmalaya,” pungkasnya.(*)

















