TERASJABAR.ID – Diare pada anak masih menjadi salah satu kondisi kesehatan yang kerap menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua.
Meski demikian, kondisi ini umumnya dapat ditangani dengan perawatan sederhana di rumah, terutama dengan memastikan kebutuhan cairan anak tetap terpenuhi.
Diare sendiri merupakan kondisi ketika anak buang air besar lebih dari tiga kali dalam sehari dengan tekstur tinja yang lebih cair dari biasanya.
Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi virus yang paling umum, hingga bakteri seperti E. coli, parasit, alergi makanan, intoleransi laktosa, efek samping obat, maupun konsumsi susu sapi yang tidak cocok.
Selain frekuensi BAB yang meningkat, diare pada anak juga sering disertai gejala lain seperti mual, muntah, perut kembung, demam, nyeri perut, hingga hilangnya nafsu makan.
Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi, mengingat tubuh anak lebih rentan kehilangan cairan dibanding orang dewasa.
Tanda-tanda dehidrasi yang perlu diperhatikan antara lain tubuh lemas, mata cekung, mulut kering, jumlah urine berkurang, hingga anak tampak mengantuk terus-menerus.
Dalam penanganan awal di rumah, orang tua disarankan memberikan cairan cukup termasuk oralit, serta ASI bagi bayi di bawah enam bulan.
Anak juga dianjurkan mengonsumsi makanan lembut dan mudah dicerna seperti pisang, kentang, telur, dan biskuit, serta menghindari minuman bersoda dan obat tanpa resep dokter.
Jika penyebabnya intoleransi susu sapi, alternatif seperti susu soya dapat diberikan.
Secara umum, diare akibat virus dapat sembuh dalam 2–3 hari, namun infeksi bakteri atau parasit memerlukan penanganan medis.
Pencegahan dapat dilakukan melalui pola hidup bersih, makanan sehat, serta vaksinasi rotavirus.-***
















