TERASJABAR.ID – Benjamin Netanyahu menghadapi kritik di dalam negeri setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Israel akan menghentikan rencana serangan terhadap Hizbullah di Beirut.
Pernyataan itu muncul di tengah tekanan politik yang meningkat menjelang pemilu, yang menurut sejumlah survei bisa menyulitkan posisi Netanyahu.
Trump mengatakan Israel dan Hizbullah telah sepakat menghentikan saling serang, tak lama setelah Netanyahu memerintahkan serangan baru ke pinggiran selatan Beirut.
Langkah tersebut memicu peringatan dari Iran karena dinilai dapat mengganggu pembicaraan antara Teheran dan Washington.
Pemerintah Lebanon kemudian mengumumkan gencatan senjata baru. Israel berhenti menyerang Beirut selatan dan Hizbullah menghentikan serangan ke Israel.
Keputusan ini memicu kritik dari oposisi. Naftali Bennett menilai pemerintah kehilangan kendali atas kedaulatan negara, sementara Yair Lapid menuduh Netanyahu membiarkan AS memengaruhi kebijakan pertahanan Israel.
Ketegangan Israel–Hizbullah tetap berlangsung meski ada gencatan senjata yang dimediasi AS pada 16 April.
Sejak konflik terbaru dimulai 2 Maret, Israel memperluas operasi di Lebanon selatan yang menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi dan ribuan korban jiwa, sementara Hizbullah juga melancarkan serangan roket dan drone ke Israel utara.
Netanyahu menolak kritik dan menegaskan Israel akan tetap menyerang target Hizbullah jika serangan ke wilayahnya berlanjut.
Namun, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut Israel menahan diri menyerang Beirut atas permintaan AS, sambil memperingatkan balasan keras jika eskalasi berlanjut.
Tokoh militer dan politik seperti Gadi Eisenkot serta Itamar Ben Gvir juga memperdebatkan pengaruh AS dalam kebijakan Israel.
Media seperti The Jerusalem Post menilai Israel kini berada dalam posisi sulit karena harus mempertimbangkan persetujuan Washington dalam keputusan militernya.-***










