TERASJABAR.ID – Banyak orang merasa tetap lelah meski telah tidur selama 7 hingga 8 jam setiap malam.
Kondisi ini sering menimbulkan kebingungan karena waktu istirahat yang dianggap cukup ternyata tidak selalu mampu mengembalikan energi tubuh secara optimal.
Menurut informasi yang dirangkum dari Alodokter dan Allianz Indonesia, rasa lelah yang terus muncul tidak hanya dipengaruhi oleh lamanya waktu tidur, tetapi juga kualitas istirahat, pola hidup, hingga kemungkinan adanya gangguan kesehatan tertentu.
Tubuh membutuhkan tidur yang benar-benar berkualitas agar proses pemulihan sel, keseimbangan hormon, dan pemulihan energi dapat berlangsung dengan baik.
Salah satu penyebab utama adalah kualitas tidur yang buruk.
Seseorang yang sering terbangun di malam hari atau mengalami gangguan seperti sleep apnea berisiko tidak mencapai fase tidur nyenyak yang penting untuk pemulihan tubuh.
Selain itu, stres, kecemasan, dan kebiasaan overthinking juga dapat membuat otak tetap aktif sehingga kualitas tidur menurun.
Faktor lain yang kerap diabaikan adalah penggunaan gawai sebelum tidur.
Paparan cahaya biru dari layar ponsel atau televisi dapat menghambat produksi hormon melatonin yang berperan mengatur siklus tidur.
Kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak seimbang, dehidrasi, serta jadwal tidur yang tidak teratur juga dapat memicu rasa lelah berkepanjangan.
Dalam beberapa kasus, kelelahan bahkan bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan seperti anemia, diabetes, gangguan tiroid, atau masalah kesehatan mental.
Untuk membantu memperbaiki kualitas tidur, sebagian orang mulai menggunakan patch melatonin yang bekerja melepaskan hormon melatonin secara bertahap sepanjang malam.
Meski demikian, penggunaannya tetap disarankan melalui konsultasi dengan tenaga medis agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.-***
















