Oleh : Dwi Mukti Wibowo, SH.,MH.
Keduanya penting, sense of crisis diperlukan untuk bertahan dalam kesulitan. Sementara sense of belonging diperlukan untuk meningkatkan motivasi dan mendorong kebersamaan karena rasa saling memiliki. Sense of crisis dan sense of belonging adalah dua konsep psikologis dan manajerial yang berbeda, di mana yang satu fokus pada kewaspadaan terhadap ancaman, sementara yang lain fokus pada keterikatan emosional terhadap kelompok.
Ada sebuah narasi luar biasa di Iran. Terpasang di banyak tempat penjualan sembako. Di rak-rak dagangannya tertulis:”ambil secukupnya, bayar nanti setelah perang”. Inilah implementasi Sense of Crisis. Sebuah refleksi rasa percaya, rasa senasib dan rasa keperdulian terhadap kesulitan yang dihadapi negara Iran dalam kondisi darurat perang. Menurut Francis Fukuyama, masyarakat di negara maju dicirikan dengan social trust yang tinggi. Semakin tinggi kepercayaan sosial, maka makin maju peradaban sebuah masyarakat, atau sebaliknya. Kualitas humanisme dan kohesi peradaban itu menguat, karena kokohnya social trust ini.
Ketidakpastian global akibat perang, mampu mengendalikan ratusan masyarakat berduyun-duyun ke tempat tempat umum. Mereka membawa dan mengumpulkan barang berharga miliknya untuk disumbangkan kepada pemerintah yang sedang berperang. Kaum perempuan rela melepaskan perhiasan dari tubuhnya. Tak ketinggalan pula anak-anak sengaja memecahkan celengan mereka untuk ikut disumbangkan. Luar biasa, rakyat Iran memiliki caranya sendiri untuk menghadapi krisis. Tanpa diperintah, mereka perduli dan ingin berkorban dengan apapun yang mereka miliki. Semata-mata untuk kepentingan negaranya.
Apa dasar pertimbangan mereka? Adalah rasa malu dengan pemimpinnya. Yang telah mengorbankan hidupnya untuk rakyatnya. Ungkap seorang nenek yang menyerahkan cincin emas miliknya sambil memeluk foto Sayeed Ali Khamenei. Baginya, pengorbanan itu belum sebanding dengan yang dilakukan pemimpinnya. Yang selama ini menanggung beban warga negaranya dengan tidak mudah. Demi martabat bangsa dan negaranya, serta kemuliaan leluhurnya, pemimpin Iran ikhlas dan siap mengorbankan nyawanya. Mereka harus menunjukkan rasa nasionalismenya jika bangsa Persia tak mudah tunduk pada siapapun.
Bentuk pengorbanan di Iran merefleksikan “Sense of Belonging” untuk saling mengisi. Pengorbanan sang pemimpin akan menjadi bara yang selalu menyemangati perjuangan generasi-generasi berikutnya. Kesepemahaman untuk menjaga negara Iran tetap “survive”, telah menggumpalkan niatan bersama untuk mempertahankan martabat bangsa dari intervensi kaum Zionis dan imperalis. “Rasa memiliki” yang kuat dari rakyat maupun pemerintah merupakan bukti “trust” yang sudah terbangun bersama untuk selalu menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara. Dari segala kemungkinan buruknya.
Sense of Belonging rakyat Iran telah menyulut semangat untuk tetap bertahan menghadapi masa perang yang berkepanjangan. Juga mengantisipasi dampak perang terhadap pelambatan ekonomi dalam negeri maupun resesi global yang dapat “menjatuhkan” wibawa pemerintahnya. Maka pengorbanan rakyat Iran ini menjadi urgen dan relevan. Partisipasi dan kontribusi rakyat Iran ini sangat membantu dan memastikan negara terjaga dan survive, baik dari sisi pasokan amunisi maupun logistiknya dalam menghadapi ancaman pihak eksternal maupun intenal. Kebersamaan ini sekaligus menjadi strategi dan pemenangan perang.
Ada pepatah, pelaut tangguh tidak pernah menunggu badai reda, tetapi akan mengakrabinya untuk belajar sesaat dan menghadapinya (learning by doing). Jadi tak perlu merencanakan secara detail dan memakan waktu lama. Apalagi kondisi tidak selalu memberikan kesempatan bagi kita untuk melakukank mitigasi risiko. Semua harus mampu mengambil resiko saat paradigma berubah dengan cepat. Disinilah Pemerintah Iran maupun rakyatnya harus mampu menghadapi dengan caranya sendiri dan dengan cepat. Ini akan terjadi jika pemerintah Iran dan rakyatnya memiliki sense of crisis dan sense of belonging yang sama terhadap negaranya.
Narasi rakyat Iran “berbondong-bondong menyerahkan barangnya untuk negara” merupakan respons darurat di tengah krisis ekonomi yang ekstrem, inflasi tinggi (mencapai 50%), dan anjloknya nilai mata uang Rial ke titik terendah dalam sejarah. Mengapa warga Iran melakukan tindakan tersebut. Pertama, Upaya untuk bertahan hidup dari krisis Ekonomi Kedua, Kekhawatiran akan kesenjangan ekonomi berkelanjutan yang akan menghilangkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ketiga, Solidaritas atau paksaan situasi yang mengharuskan dilakukan agar mendukung stabilitas negara yang terancam.
Keempat, Respons terhadap kondisi geopolitik akibat konflik berkepanjangan dan sanksi internasional yang turut memperburuk kondisi domestik. Situasi demikian ternyata juga memicu gelombang demonstrasi besar di Iran yang bermula dari pedagang pasar (bazar) di Teheran, yang kini meluas menjadi tuntutan perbaikan ekonomi dan politik. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengklaim telah menyiapkan solusi untuk melindungi daya beli masyarakat melalui reformasi moneter dan perbankan. Itulah sebabnya, didorong oleh nasionalisme dan solidaritas, menyumbang dana, emas, dan perhiasan.
Rakyat dikalangan perkotaan dan warga Iran yang ada di luar negeri juga memberikan bantuan kemanusiaan seperti obat-obatan dan makanan untuk membantu korban perang dan mendukung upaya pertahanan negara. Donasi ini disalurkan melalui lembaga resmi Iran, dan juga ditujukan untuk rekonstruksi wilayah yang terdampak konflik. Sumbangan rakyat Iran terkait konflik tersebut merupakan bantuan kemanusiaan berupa donasi dari masyarakat untuk mendukung warga sipil yang terdampak, termasuk kebutuhan medis dan logistik. Selanjutnya adalah donasi finansial & emas untuk mendukung upaya pertahanan negara.
Dukungan pihak luar dari berbagai negara, termasuk Indonesia, adalah berupa jalur donasi resmi bagi masyarakat yang ingin memberikan bantuan kemanusiaan. Juga bantuan rekonstruksi berupa donasi yang dihimpun untuk membantu proses rekonstruksi wilayah di Iran yang mengalami kerusakan akibat serangan. Meskipun, sumbangan untuk “berperang,” tapi fokus utama inisiatif adalah pada bantuan kemanusiaan dalam rangka mendukung kelangsungan hidup masyarakat di wilayah yang terdampak langsung. Dengan nawaitu inilah, rakyat Iran menunjukkan nasionalisme dan solidaritas yang tinggi.
Sumbangan dari dana regional maupun bantuan internasional juga masuk ke Iran. Dipergunakan untuk tujuan kemanusiaan dan rekonstruksi. Juga untuk membangun kembali infrastruktur, rumah, dan fasilitas umum yang rusak akibat konflik atau gempuran. Selain itu ada juga bantuan kemanusiaan khusus bagi yang terdampak kesulitan ekonomi dan konflik di wilayah tersebut. Adapun donasi swadaya masyarakat dipergunakan mendukung pemerintah dan upaya pertahanan (seperti melawan gempuran AS-Israel). Terakhir bantuan kesehatan dan medis, terutama setelah adanya permintaan bantuan medis ke pihak internasional.
Selain itu, pemerintah Iran juga mengelola subsidi bahan bakar dan kebutuhan pokok (roti, beras, minyak goreng, obat-obatan) yang didanai dari pendapatan negara untuk membantu meringankan beban ekonomi rakyat Meskipun subsidi ini terus mengalami reformasi.
Sumbangan atau aksi solidaritas rakyat Iran—baik dalam bentuk bantuan material, dana, maupun aksi sukarelawan-memang merupakan wujud nyata dari sense of crisis yang mendalam. Situasi ini menunjukkan masyarakat menyadari tingkat bahaya atau kesulitan yang sedang dihadapi negara mereka, terutama akibat tekanan ekonomi dan geopolitik.
Sense of Crisis juga muncul sebagai reaksi terhadap sanksi internasional yang berkelanjutan. Dan telah memperburuk kondisi ekonomi di Iran. Sumbangan yang merupakan keperdulian dari rakyat Iran sering kali menjadi bentuk pertahanan diri kolektif warga untuk bertahan hidup terhadap tekanan ekonomi yang ekstrim. Dengan demikian, sumbangan rakyat Iran yang menjadi simbol nasionalisme untuk melawan penjajahan dari kaum zionis maupun imperalis bukan sekadar bantuan biasa. Melainkan respon aktif atas krisis ekonomi, sanksi, dan ketegangan politik yang mengancam stabilitas kehidupan sehari-hari. Bravo dan berkah buat Iran. Negara para Fisabililah.
(Ketua Layanan Bantuan Hukum Persatuan Pensiunan Indonesia (LBH – PPI) Provinsi Jawa Barat)










