TERASJABAR.ID – Avoidant attachment style adalah pola keterikatan yang memengaruhi cara seseorang menjalin hubungan dengan pasangan, keluarga, maupun teman.
Gaya ini ditandai dengan kecenderungan menjaga jarak emosional dan menekankan kemandirian.
Akibatnya, hubungan bisa terasa kurang hangat atau berjarak, meski sebenarnya tetap ada keinginan untuk dekat.
Pola ini merupakan salah satu dari empat tipe attachment style dan umumnya terbentuk sejak masa kanak-kanak.
Lingkungan pengasuhan yang minim rasa aman secara emosional sering menjadi pemicu.
Dengan memahami avoidant attachment style sejak dini, seseorang dapat lebih mengenali kebutuhan emosionalnya sendiri dan membangun hubungan yang lebih sehat serta mendukung kesehatan mental.
Individu dengan avoidant attachment style biasanya merasa nyaman jika tidak terlalu bergantung pada orang lain.
Mereka cenderung menahan emosi, jarang mengekspresikan perasaan, dan lebih memilih menyelesaikan masalah sendiri.
Tanda-tandanya antara lain sulit menerima afeksi, menghindari konflik, sangat menjaga privasi, serta merasa tertekan ketika diminta kedekatan emosional yang intens.
Penyebab utama pola ini sering berakar pada pengalaman masa kecil, seperti kurangnya respons emosional dari orang tua, jarangnya dukungan verbal atau fisik, tuntutan untuk mandiri sejak dini, hingga pengalaman kehilangan atau konflik keluarga.
Anak pun belajar bahwa bergantung pada orang lain terasa tidak aman.
Dalam jangka panjang, avoidant attachment style dapat memengaruhi kualitas hubungan dan meningkatkan risiko stres, kecemasan, serta rasa kesepian.
Meski begitu, pola ini bukan sesuatu yang permanen.
Dengan mengenali pola diri, belajar mengekspresikan emosi secara bertahap, membangun komunikasi yang aman, serta terbuka pada konseling atau terapi, hubungan yang lebih hangat tetap dapat diwujudkan.-***

















