Jalan Braga: Ketika Ikon Kehilangan Cerita
Salah satu contoh paling nyata dari persoalan ini adalah Jalan Braga. Bagi wisatawan, Braga dikenal sebagai ikon heritage Bandung: jalan berarsitektur kolonial, deretan kafe, dan ruang swafoto yang estetik. Ia populer, tetapi sering kali hadir tanpa konteks.
Padahal, Braga adalah arsip hidup sejarah Bandung sebagai kota modern. Di jalan ini, pernah tumbuh pusat perdagangan, seni, pergaulan intelektual, dan kehidupan kosmopolitan awal abad ke-20. Braga bukan sekadar koridor wisata, melainkan ruang di mana kota membentuk identitasnya.
Dalam praktik pariwisata hari ini, storytelling Braga sering berhenti pada estetika. Wisatawan berjalan, memotret, lalu pergi, tanpa pernah diajak memahami mengapa jalan ini penting bagi Bandung. Bangunan berdiri indah, tetapi sunyi secara makna.
Jika storytelling dikelola secara sadar, Braga dapat menjadi contoh bagaimana pariwisata heritage menghadirkan pengalaman yang lebih dalam. Setiap bangunan dapat menjadi titik cerita, tentang arsitektur art deco, perubahan fungsi ruang, dinamika sosial, hingga relasi antara kota dan ingatan kolektif. Storytelling ini tidak harus hadir dalam bentuk tur formal semata, tetapi dapat diwujudkan melalui papan interpretatif yang komunikatif, tur tematik berbasis komunitas, audio guide digital, maupun konten media sosial yang dirancang dengan narasi berlapis.
Lebih penting lagi, storyteller utama Braga seharusnya adalah warga dan komunitas. Ketika cerita datang dari mereka yang hidup dan merawat ruang tersebut, narasi menjadi lebih otentik. Pariwisata pun bergeser dari aktivitas konsumsi ruang menjadi perjumpaan dengan sejarah dan kehidupan kota.
Storytelling sebagai Strategi Pariwisata Kota:
Kasus Braga menunjukkan bahwa tantangan utama pariwisata Bandung bukan terletak pada kurangnya ikon, melainkan pada ketiadaan orkestrasi storytelling. Ruang yang sama dapat menghadirkan pengalaman dangkal atau bermakna, tergantung pada bagaimana cerita dikelola.
Sebagai anggota Bandung Tourism Board, saya meyakini bahwa peran lembaga ini bukan sekadar meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi menjaga arah cerita kota.
Tourism board idealnya menjadi penjaga makna ruang kolaboratif yang menghubungkan pemerintah, komunitas, pelaku industri, dan akademisi dalam merumuskan storytelling Bandung yang berakar, inklusif, dan berkelanjutan.
















