Ketersediaan pangan pokok seperti beras, jagung, gula konsumsi, bawang, telur, dan daging ayam ras dipastikan melebihi kebutuhan konsumsi nasional hingga Idulfitri mendatang.
Adapun ketersediaan beras dan jagung tercatat yang paling eksponensial. Januari sampai Maret, beras diproyeksikan masih mampu menghasilkan surplus hingga 14,4 juta ton.
Hal itu berasal dari total ketersediaan 22,2 juta ton yang merupakan hasil dari stok awal tahun 12,4 juta ton ditambah produksi tiga bulan 9,8 juta ton, dikurangi konsumsi nasional sampai Maret 7,7 juta ton.
Sementara jagung diperkirakan dapat kembali surplus sampai akhir Maret di angka 4,7 juta ton. Ini setelah total ketersediaan secara nasional yang diperkirakan 9,1 juta ton yang mampu memenuhi kebutuhan konsumsi Januari-Maret yang 4,4 juta ton.
Kestabilan ketersediaan jagung nasional berimplikasi pada komoditas seperti telur dan daging ayam ras.
Untuk itu, Kepala Bapanas melontarkan peringatan awal agar tidak ada pelaku usaha yang membuat anomali harga pangan pokok strategis hingga tingkat konsumen.
Ia mengingatkan kepada para produsen dan distributor untuk menaati Harga Eceran Tertinggi (HET) atau Harga Acuan Penjualan (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah.
“Begitu menemukan harga di atas HET, jangan kejar (pedagang) pasarnya, (tapi) kejar distributor dan produsennya. (Misalnya) minyak goreng tidak ada ampun. Daging tak ada ampun. Dari mana asalnya, kejar langsung sidik. Sekarang adalah cenderung penindakan. Tak ada lagi imbauan,” tegas Amran.
















