TERASJABAR.ID – Cheese tea menjadi salah satu minuman kekinian yang digemari banyak orang, terutama kalangan muda.
Rasanya yang unik, –perpaduan gurih dari krim keju dan manisnya teh– membuat minuman ini menarik.
Namun, konsumsi cheese tea tetap perlu dibatasi karena kandungan gula, lemak, dan kalorinya cukup tinggi.
Minuman ini biasanya terdiri dari teh, seperti oolong, yang dipadukan dengan krim keju, susu, gula, dan tambahan topping seperti boba atau jelly.
Meski terlihat menggoda, penting untuk memahami manfaat sekaligus risikonya bagi kesehatan.
Jika dikonsumsi tanpa tambahan gula atau topping berlebih, cheese tea masih bisa memberikan manfaat.
Kandungan teh di dalamnya mengandung antioksidan yang membantu melindungi sel tubuh dari radikal bebas.
Selain itu, kafein dalam teh juga dapat meningkatkan energi dan fokus.
Disajikan dingin, minuman ini pun memberi sensasi segar dan dapat memperbaiki suasana hati.
Namun, di balik manfaat tersebut, cheese tea memiliki potensi risiko jika dikonsumsi berlebihan.
Kandungan gula yang tinggi dapat memicu kerusakan gigi dan meningkatkan kadar gula darah.
Selain itu, lemak dari krim keju bisa berdampak pada peningkatan kolesterol dan berat badan, bahkan berisiko menyebabkan obesitas dan diabetes jika dikonsumsi terus-menerus.
Agar tetap aman, konsumsi cheese tea sebaiknya dibatasi, misalnya 1–2 kali per minggu.
Pilih porsi kecil, kurangi gula, dan hindari topping manis.
Dengan cara ini, Anda tetap bisa menikmati minuman favorit tanpa mengorbankan kesehatan.-***










