Selain peningkatan suhu, tren hujan ekstrem juga menunjukkan eskalasi yang signifikan. Curah hujan di atas 150 milimeter per hari kini semakin sering terjadi, bahkan pada beberapa kejadian mencapai 300 hingga 400 milimeter per hari.
“Kondisi ini inline dengan tren perubahan suhu dan perubahan iklim yang terjadi secara global,” jelasnya.
Menurut Andri, kondisi tersebut menuntut peningkatan kesiapsiagaan dan kewaspadaan, khususnya dalam menerjemahkan informasi dan peringatan dini BMKG ke dalam pemetaan kerentanan wilayah oleh pemerintah daerah.
Terlebih, tantangan ke depan tidak hanya berasal dari perubahan iklim global, tetapi juga dari perlunya penguatan integrasi strategi mitigasi bencana yang hingga kini dinilai belum sepenuhnya optimal.
Dalam konteks mitigasi, Andri menekankan pentingnya penguatan Sistem Peringatan Dini Multibahaya (Multi-Hazard Early Warning System/MHEWS) yang terintegrasi, sejalan dengan inisiatif global Early Warning for All (EW4All).
Sistem ini mencakup empat pilar utama, yakni pengetahuan risiko bencana (disaster risk knowledge), deteksi dan pemantauan (detection, observation, and monitoring), kesiapsiagaan dan respons, serta diseminasi informasi yang efektif kepada masyarakat.
Selain itu, peningkatan literasi dan edukasi kebencanaan kepada masyarakat juga menjadi aspek yang tidak kalah penting. Salah satu upaya penguatan literasi tersebut dilakukan melalui Sekolah Lapang BMKG.
“Artinya ini juga poin penting untuk meningkatkan awareness dari masyarakat bahwa bencana hidrometeorologi ini tidak bisa kita elakkan lagi terus. Harus kita gugah awareness tersebut melalui edukasi dan program-program yang tentunya sampai ke masyarakat untuk meningkatkan pemahaman terhadap upaya mitigasi bencana,” jelasnya.
















