Selain CPO dan turunannya, peningkatan ekspor industri pengolahan juga didorong oleh komoditas lain seperti nikel, kendaraan bermotor roda empat atau lebih, semikonduktor dan komponen elektronik, serta kimia dasar organik berbasis hasil pertanian.
Sementara itu, dari sisi sektoral, kontribusi ekspor nonmigas pada Februari 2026 didominasi oleh industri pengolahan sebesar 18,55 miliar dolar AS, diikuti sektor pertambangan dan lainnya sebesar 2,15 miliar dolar AS, serta sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan sebesar 0,39 miliar dolar AS.
“Pada bulan Februari tahun 2026 total ekspor nonmigas sebesar 21,09 miliar dolar AS dan jika dirinci menurut sektornya, pertanian, perikanan, dan kehutanan berkontribusi sebesar 0,39 miliar dolar AS. Sektor pertambangan dan lainnya 2,15 miliar dolar AS dan industri pengolahan sebesar 18,55 miliar dolar AS,” paparnya.
Dengan kinerja tersebut, CPO dan produk turunannya kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu komoditas unggulan yang menopang pertumbuhan ekspor Indonesia di awal tahun 2026.
Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa peningkatan ekspor CPO dan turunannya tidak terlepas dari upaya penguatan hilirisasi sektor pertanian yang terus didorong pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah produk.
Ke depan Kementerian Pertanian (Kementan) akan terus memperkuat ekosistem produksi, pengolahan, hingga pemasaran komoditas strategis guna meningkatkan nilai tambah serta memperkokoh ekonomi nasional berbasis sektor pertanian.
“Kalau CPO kita olah menjadi margarin, kosmetik, dan produk turunan lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia. Kita kuasai lebih dari 60 persen pasar dunia. Artinya Indonesia sangat menentukan. Dan ini harus terus kita dorong hilirisasinya,” ungkap Mentan.***
Sumber: Kementan


















