Oleh Jacob Ereste (Jurnalis Senior)
Anak Sekolah Dasar kelas IV di Kecamatan Jerebuu, Ngada Nusa Tenggara Timur memilih bunuh diri untuk membebaskan ibunya dari biaya sekolah, karens tidak mampu membelikan buku tulis yang mungkin hanys seharga tsk lebih dari 10 ribu upiah.
Pilihan sikap YBR yang baru berusia 10 tahun ini lamgsung terasa membetot, jantung-hati dan pernafasan setiap orang ysng masih tersisa getaran jiwa kemanusiaan yang masih tersisa, simpati, empati dan rasa solidaritas, tanpa perduli asal, agama mapun latar belakang keluarganya serta diri yang bersangkutan sendiri.
Pilihan sikap yang tragis berbair dengan herois snak seusia 10 tahun ini, sungguh membentot perhatian banysk orang. Karena dalam pilihan sikapnya yang penuh kesadaran itu dia tandai dengan pesan herook untuk sang ibu, namun mengiris rasa kemanusiaan yang nyaris habis akibat tak berdaya menghadapi tekanan ekonomi yang nyata pada era persiapan saat paling strategis untuk memprsiapkan diri memasuki era 100 tahun Indonesia merdeka, karena sudah selayaknya seluruh rakyat Indonesia menikmati kesejahteraan yang membahagiakan, tak lagi didera oleh kemiskinan serta kebodohan yang nenjadi tekad dan kesepakatan bersama seperti yang jelas dan terang tertulis dalam pembukaan UUD 1945.
Tragika kemiskinan serta hasrat untuk mengatasi masalah kebodohan rakyat Indonesia, memang akan semakin terkesan ironi ketika merujuk pada sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia seperti yang termaktub dalam Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dan sebagai ideologi negara yang masih memiliki anak bangsa yang tidak terurus seperti realitas yang harus dihadapi oleh YBR dari Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur yang menggedor kesadaran solidaritas nasionalis kebangsaan yang telah meredup, seperti kerakap hidup di atas batu, hidup segan mati pun tak mau.















