Anak kecil dari Jeberuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur itu tampil sebagai potret nyata anak-anak di Indonesia yang mungkin sudah menikmati makan bergizi gratis yang masih diajar oleh para guru honor yang juga masih harus menjadi tukang ojek seperti di Sukadana, Lampung Timur sampai malam hsrinya terpaksa menjadi penjual nasi goreng untuk mencukupi kebutuhan pokok rumah tangganya bersama dua orang anaknya.
Kerja keras Abdul Somad dari Jambi dan Umar Bakri dari Martapura Kalimantan Selatan sebagai guru honor yang sudah melampaui masa kerja 8 tahun, entah apa penyebabnya belum juga layak untuk ditingkatkan kesejahteraan hidup mereka, agar erod kerja pengabdiannya bisa lebih layak dan pantas menyongsong masa tua yang lebih nyaman dan menenteramkan. Agaknya, realitas serupa inilah yang sering menjadi penyulut rasa ketidakadilan hingga membuat banyak generasi bangsa yang unggul menjadi surut dan meredup, termasuk mereka yang lain — kini enggan menyanyikan lagu para patriot kita; yaitu “Bagimu Negri Kami Berjanji”… atau lagu “Maju Tak Gentar …….” yang diplesetkan jadi “Membela Yang Bayar”.
Boleh jadi makna dari pemahaman dari fakir midkin dan anak terlantar dipelihara oleh negara seperti tertulis dalam priambul konstitusi negara kita itu salah tafsir atau salah dipahami, sehingga nyaris seabad usia republik ini janji dan cita-cita untuk mengatasi masalah kemiskinan dan kebodohan seperti tak pernah mampu — stau memang tidak mau — untuk dijawab agar posisi kemerdekaan bangsa Indonesia tidak terus termangu-mangu fi depsn pintu gerbang kemerdekaan, tanps pernah masuk dan berada dalam suasana kemerdekaan yang sesungguhnya.
Banten 7 Februari 2026
















