GPM yang telah terlaksana sejak awal Februari sampai sebelum hari ini adalah 490 titik dan yang akan dilaksanakan terus-menerus sampai akhir Februari diperkirakan 281 titik. Dengan itu, total GPM di Februari 2026 ini dapat mencapai 1.218 titik.
Capaian 1.218 titik GPM di Februari ditambah 328 titik GPM di Januari tahun 2026 telah mencatatkan torehan yang impresif terhadap jumlah GPM periode yang sama pada tahun 2025.
Bapanas mencatat peningkatannya hingga 69,15 persen karena GPM pada Januari-Februari 2025 berada di angka 914 titik. Sementara GPM Januari-Februari 2026 secara total dapat mencapai 1.546 titik.
Eskalasi program GPM tersebut membuktikan komitmen serius pemerintah dalam memastikan tingkat konsumsi pangan masyarakat dapat terjaga.
Kepala Bapanas mengungkapkan harga pangan pokok yang stabil merupakan titah Presiden Prabowo Subianto yang diembannya.
“Tahun ini kalau ada yang melanggar, tolong seluruh Dirkrimsus Polri se-Indonesia yang hadir pada hari ini. Aku minta tolong, ini perintah panglima tertinggi, Bapak Presiden. Kemarin kami dipanggil, menghadap dan menanyakan kondisi pangan menghadapi bulan suci Ramadan, Hari Nyepi, Imlek, (itu) tidak boleh ada harga naik,” ungkap Amran.
“Tidak boleh lagi kita main-main. 286 juta penduduk Indonesia, (akan ada) hari raya. Ada Idulfitri, ada Ramadhan, ada Imlek, ada Nyepi. Tolong hargai saudara-saudara kita, karena larinya ke pemerintah. Ikuti aturan, kalau ada yang menjual di atas HET, cari produsennya. Sekali lagi, tolong seluruh perusahaan Indonesia, patuh pada harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah,” pungkas Amran.
Senada, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa memastikan pemerintah tidak hanya menggempur dengan GPM saja. Masih ada berbagai program intervensi pangan yang konsisten diterapkan pemerintah yang tentunya untuk mengiringi pengawasan melekat oleh Satuan Tugas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan dan Mutu Pangan.
















