Untuk memperkaya perspektif strategi adaptasi, forum menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, dan pelaku lapangan, antara lain Prof. Dr. Antonius Suparno, M.P. (Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Papua), Fadri Prasetya, S.Tr., Met. (Pengamat Meteorologi dan Geofisika Penyelia), serta Feri Irawan (Sekretaris Brigade Pangan Sejahtera 1).
Prof. Antonius menekankan pentingnya penguasaan ilmu klimatologi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam strategi tanam. Menurutnya, pemanfaatan data dan prediksi cuaca menjadi kunci dalam mengantisipasi risiko iklim di sektor pertanian.
“Dengan memahami prediksi cuaca, petani dan pemerhati pertanian dapat melakukan antisipasi dini. Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan fenomena nyata yang sudah dan sedang terjadi,” jelasnya.
Sementara itu, Fadri Prasetya menjelaskan bahwa mitigasi perubahan iklim perlu dilakukan secara terpadu, mulai dari pembangunan infrastruktur pengendali banjir, normalisasi sungai, penerapan sistem peringatan dini, hingga adaptasi berbasis alam.
“Perubahan iklim adalah threat multiplier. Karena itu, kesiapsiagaan dan perubahan perilaku terhadap alam merupakan investasi mutlak bagi keselamatan dan keberlanjutan pertanian di masa depan,” paparnya.
Berbagi pengalaman lapangan, Feri Irawan mengajak petani untuk menerapkan strategi adaptasi melalui percepatan pengolahan lahan dan ketepatan waktu tanam sebagai kunci menjaga produktivitas padi di tengah cuaca ekstrem.
Ia menuturkan bahwa dukungan pemerintah melalui penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta keterlibatan pihak swasta, telah mempercepat proses pengolahan lahan dibandingkan metode konvensional, sehingga petani tidak kehilangan momentum masa tanam yang krusial.
Menutup kegiatan, Kepala Pusat Pendidikan Muhammad Amin menegaskan bahwa tema yang diangkat relevan dengan kondisi curah hujan tinggi di berbagai wilayah serta mendukung mitigasi risiko terhadap program strategis Kementerian Pertanian.
“Swasembada pangan harus bersifat berkelanjutan dan didukung strategi adaptif. Banjir dan iklim ekstrem tidak boleh menghentikan produksi. Jika satu lokasi terkendala, potensi lahan lain harus dioptimalkan agar produktivitas tetap terjaga,” ujarnya.***
















