Sementara itu, Koordinator Nasional FWK, Raja Perlindungan Pane, di tempat yang sama menegaskan bedah buku ini sengaja digelar sebagai “alarm” bagi media arus utama agar berhenti reaktif menyalahkan platform, lalu mulai membangun strategi konvergensi yang disiplin, terukur, dan berpijak pada kepentingan publik.
Taufan, yang masih menjadi produser di tvOne, menyebut ide buku itu berangkat dari riset sejak 2019 tentang konvergensi di tempat ia bekerja. Temuannya, konvergensi kerap berhenti sebagai “saluran baru”, bukan berubah menjadi budaya kerja. “Saat itu konvergensi masih setengah hati,” ujarnya, seraya menilai media baru terus memicu perubahan sosial yang memukul kenyamanan bisnis TV berita.
Ia lalu menawarkan konsep newskestraroom—ruang redaksi yang mengejar harmoni berita: bukan hanya isi dan kemasan, tetapi juga delivery hingga sampai ke tangan publik. Newsroom konvensional, kata dia, terlalu bertumpu pada satu medium, sementara newskestraroom menghadirkan banyak platform sebagai saluran distribusi produk berita.
Taufan memaparkan tiga kunci perubahan. Pertama, TV berita tak lagi ditentukan siapa yang memegang kamera, melainkan siapa yang bisa membuat publik peduli, “menyunting realitas bersama” dan menyebarkan. Di sini, ia menempatkan media konvensional sebagai second screen sekaligus instrumen validasi—yang berarti TV bukan lagi layar utama audiens dan pendapatan iklan akan terus menurun.
Kedua, redaksi harus memproduksi multi-konten untuk multi-platform, dengan platform global sebagai layar pertama publikasi, namun tetap membawa kurasi khas wartawan agar konten bisa spreadable dan menciptakan engagement.
Ketiga, TV berita diminta membuka kolaborasi dengan audiens yang memegang sumber informasi pertama, menjadikan layar platform sebagai etalase konten audiens sebelum naik ke layar TV yang stickiness.
Dalam kerangka itu, Taufan menutup dengan satu pergeseran yang ia anggap tak bisa dihindari yaitu ketika breaking news pertama kali muncul di tangan audiens, TV berita harus siap hadir di “layar pertama” platform global. Kalau tidak, ya sudah, penonton keburu pindah dan TV tinggal jadi tontonan belakangan.***












