Ia menjelaskan, anggapan bahwa investasi manufaktur tidak tumbuh justru bertentangan dengan data resmi pemerintah.
Data rilis ekspor-impor terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa impor barang modal pada tahun 2025 tumbuh di atas 34,66 persen dibandingkan tahun 2024.
Impor barang modal tersebut terutama berasal dari impor mesin dan peralatan mekanis, yang secara langsung berkaitan dengan aktivitas investasi baru dan perluasan kapasitas produksi atau ekpansi industri.
“Peningkatan signifikan impor barang modal, khususnya mesin dan peralatan mekanis, menjadi indikator kuat bahwa investasi manufaktur justru tumbuh pesat, terutama sepanjang 2025. Ini menunjukkan industri sedang melakukan ekspansi dan modernisasi kapasitas produksi,” tegasnya.
Selain itu, realisasi produksi baru pada 2026 diperkirakan akan didukung oleh investasi sektor industri pengolahan nonmigas dalam jumlah besar serta berpotensi menyerap ratusan ribu tenaga kerja.
Hal ini sekaligus memperkuat struktur industri nasional dan menjaga momentum pertumbuhan industri manufaktur di atas 5 persen.
Kemenperin menilai bahwa indikator berbasis aktivitas riil, seperti jumlah perusahaan yang mulai berproduksi, realisasi investasi, serta impor barang modal, memberikan gambaran yang jauh lebih komprehensif mengenai kondisi investasi manufaktur dibandingkan indikator berbasis survei semata.
Ke depan, Kemenperin terus mendorong penguatan iklim investasi industri melalui kebijakan hilirisasi, pengembangan kawasan industri, transformasi industri 4.0, serta penguatan pasar domestik dan ekspor.

















