Karena itu, selaku Dandim ia berkoordinasi dengan Panpel (panitia pelaksana) liga. Intinya, ketika PSM Makassar menggelar pertandingan “home” di Stadion Mattoanging, pihaknya akan melekatkan minimal 60 orang bantuan personel (BP)pengamanan.
“Selain tugas pengamanan, mereka mendapat tugas ekstra menjaga jangan sampai pohon trembesi yang masih kecil rusak terinjak-injak para supporter, baik saat hendak masuk stadion, maupun setelah bubar pertandingan,” katanya pula.
Hampir tiga tahun, perhatian Marga Taufiq tak pernah lepas dari 105 bibit trembesi yang ia tanam di sekitar stadion Mattoanging. Apalagi usai menjabat Dandim Makassar ia geser ke Brigif 3/TBS Kariango sebagai Kepala Staf (Kasbrigif), menggantikan Letkol Inf AM Putranto. Komandan Brigade sebelumnya, Kolonel Inf Doni Monardo, sudah lebih dulu geser menjadi Dangrup A Paspampres.
Sebagai Kasbrigif, kegiatan penanaman trembesi menjadi lebih massif. Apalagi brigade memiliki 3 batalyon,ditambah kodim, zipur, armed, arhanud, kavaleri. Maka gerakan menanam pohon pun diperluas. Termasuk penanaman trembesi di tepi jalan-jalan raya, seperti ruas Jalan Pangayoman, jalan Cenderawasih kota Makassar.
“Mungkin saat itu, beberapa pemilik toko ada yang keberatan depan tokonya ditanami pohon. Tapi sekarang pasti merasakan tokonya jadi adem,” katanya.
Semua berangkat dari langkah besar Danbrigif sebelumnya, Doni Monardo. “Jadi, kalau pak Doni menghijaukan Lapangan Karebosi, saya yang menghijaukan Mattoanging,” ujar Marga Taufiq disusul tawa renyahnya.
Meski begitu, Marga Taufiq mengaku, Doni Monardo adalah “jenderal pohon” yang sesungguhnya. Ia mendengar, melihat, dan terlibat langsung kegiatan penanaman pohon berkat Doni Monardo. Yang ditanam, bukan saja wilayah Sulawesi Selatan, tetapi hampir di seluruh wilayah Tanah Air, Doni Monardo mewariskan pohon.
“Dulu waktu beliau Danbrigif, punya staf namanya kapten Awal. Dia yang disuruh berkomunikasi dengan semua Dandim. Beliau menginstruksikan penanaman pohon (trembesi). Sebagai Dandim, saya perintah lagi ke Danramil. Setiap Koramil bertanggung jawab atas penanaman pohon diwilayahnya. Apa pun kegiatannya, tiap minggu bawa satu, dua, lima bibit untuk ditanam. Pokoknya kegiatan apa pun dan di mana pun, harus tanam pohon,” papar Taufiq.
“Anak-anak” Pohon
Ia segera sadar dan menyelami hakikat “menanam pohon”. Bukan pada berapa jumlah (bibit) pohon yang ditanam, tetapi berapa pohon yang tumbuh.
Kini, setelah kurang lebih 20 tahun kemudian, Marga Taufiq benar-benar merasakan kekayaan batin yang luar biasa berkat aktivitas menanam pohon. “Rasanya kalau berkunjung ke mana pun di wilayah Sulsel, saya seperti menengok ‘anak-anak’, yaitu pohon-pohon yang dulu kami tanam,” ujarnya.
Ada desir rasa bahagia mengalir ke seluruh tubuh saat melihat pohon-pohon yang dulu ditanam (dari bibit) kini sudah menjulang tinggi. Tak hanya tinggi, tetapi memiliki kanopi berdiameter lebar, meneduhi siapa pun yang melintas di bawahnya.
Seperti yang ia rasakan tahun 2015, saat menjabat Waaster Kasad. Saat itu, ia berkunjung ke Makassar. Kesempatan pertama seusai acara pokok adalah mengunjungi stadion Mattoanging. “Meski kondisi stadion sudah mulai rusak, tetapi pohon-pohon trembesi itu tumbuh dengan baik. Saya hitung, masih ada seratus pohon,” kata Taufiq.
Kenangan berikutnya, akhir tahun 2025. Marga Taufiq sudah pensiun dari TNI, dan menjabat Wakil Direktur Utama Bulog. Ia berkunjung ke Makassar, dan (lagi-lagi) mengunjungi “anak-anak”-nya di sekitar stadion Mattoanging. “Stadion memang sudah rusak, dan sedang dalam rencana renovasi. Tapi pohon-pohon trembesi itu masih kokoh berdiri, menyejukkan mata siapa pun yang memandang,” katanya.
Suatu ketika, ia dan istri sengaja duduk di dekat warung minuman yang ada di area lapangan sekitar Stadion Mattoanging. Seorang ibu-ibu tampak sedang menyapu dan melintas tak jauh dari Marga Taufiq dan istri yang sedang duduk santai.
Bertanyalah Marga Taufiq ke ibu-ibu penyapu lapangan tadi, “Ibu… itu banyak pohon, siapa yang menanam?”
Si ibu yang ditanya berhenti menyapu. Menoleh ke arah Marga Taufiq dan istri, seraya menjawab, “Oh… itu dulu yang nanam pak tentara. Orangnya keras sekali. Anak buahnya dimarahi kalau ketahuan tidak merawat….”
Marga Taufiq hanya tersenyum, sambil menoleh ke istrinya, Arnida. Sang istri pun membalas tatapan suaminya dengan senyuman.











