Hari-hari berikutnya terasa lebih kelabu.
Cahaya mentari seperti memilih alamat lain.
Kadang terasa terang hanya singgah
ke rumah-rumah elit di kota,
tempat masa depan bisa dinegosiasikan
dengan uang dan koneksi.
Namun Yabo tetap berangkat sekolah.
Seragam sederhana, sandal jepit,
dan mimpi yang tak pernah ia lepaskan.
Katanya, sekolah adalah jalan keluar.
Katanya, semua anak punya kesempatan sama.
Katanya, masa depan ditentukan kerja keras.
Tapi realitas sering menertawakan slogan itu.
Ada yang melesat jauh
tanpa harus berlari.
Ada yang cukup punya jaringan,
cukup punya uang, cukup punya “orang dalam”.
Dan anak-anak seperti Yabo
sering hanya kebagian janji.
Suatu pagi, suara Yabo kembali lirih:
“Nenek, saya butuh buku dan pulpen baru.
Yang lama sudah habis.”
Pelukan nenek menjawab lebih dulu.
Air mata jatuh diam-diam
di seragam sekolah cucunya.
“Maafkan nenek, Yabo…
Nenek tidak punya uang.”
Tangis yang selama ini tertahan
akhirnya pecah.
Tangis seorang anak
yang terlalu cepat mengenal kerasnya hidup.
Tak lama ia melangkah keluar.
Tak ke sekolah.
Hanya ke kebun kecil di samping gubuk,
tempat pohon-pohon cengkih tumbuh subur,
seolah dunia tak pernah kekurangan apa pun.
Langit makin gelap.
Petir sesekali menggelegar.
Seperti peringatan yang terlambat dibaca.
Mungkin pagi itu
Yabo merasa dunia terlalu luas
untuk anak sekecil dirinya.
Dan ia memilih pergi.
Lehernya ia pasrahkan pada pohon cengkih, yang tumbuh subur disamping gubuknya.
Anak itu meninggalkan catatan singkat
untuk ibunya:
“Ibu, jangan cari saya ya.
Saya sudah pergi meninggalkan dunia.
Karena isi dunia tidak sayang
dan tidak bisa membantu saya.”
Kalimat polos itu lebih mengguncang
daripada pidato panjang para pemimpin.
















