TERASJABAR.ID – Kematian massal ikan dewa di Balong Girang Cigugur, Kab. Kuningan, semakin bertambah, menyusul kematian puluhan ikan langka pekan lalu. Ternyata setiap hari kembali ikan-ikan itu kembali mati massal. Jika semula tercatat hanya puluhan yang mati, beberapa hari kemudian meningkat menjadi 500 ekor, dan berdasarkan update data selama sepekan terakhir ini, hampir 800 ekor ikan dewa mati massal. Bahkan berpotensi kematian massal akan terus bertambah.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kuningan bergerak cepat melakukan penanganan darurat guna mencegah dampak yang lebih luas.
Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani, meninjau langsung proses pembongkaran saluran air yang diduga menjadi salah satu penyebab terganggunya ekosistem kolam ikan dewa.
“Dalam upaya mengantisipasi kematian ikan dewa berikutnya, pemerintah daerah saat ini tengah berupaya maksimal mengatasi permasalahan ini,” ujar Wabup Tuti di sela meninjau pembongkaran saluran air Balong Girang Cigugur, Minggu (8/2/2026).
Salah satu faktor utama yang memicu kematian ikan dewa adalah dampak tertutupnya sirkulasi air di Kolam Cigugur. Kondisi tersebut menyebabkan ikan tidak mendapatkan aliran air segar yang cukup, sehingga berdampak pada aktivitas dan kelangsungan hidup ikan. Saat ini sirkulasi air di kolam memang tertutup, sehingga ikan tidak bebas bergerak hilir-mudik menghirup air segar.
Terpisah, Kabag Perikanan Kuningan, Deni, menambahkan, berdasarkan hasil penelitian sementara, ditemukan adanya perubahan struktur saluran air yang mengganggu aliran alami.
Sebelumnya saluran ini dipasangi coran setinggi sekitar 50 sentimeter. Hari ini akan dicoba digali kembali sedalam 50 sentimeter agar kembali sama dengan permukaan awal.
“Sistem pengairan yang ada dibuat seakan-akan air mengalir, namun sebenarnya aliran air di bagian bawah tertahan. Volume air berkurang karena sistem pembuangan dinaikkan, kemudian ditutup dan dicor. Akibatnya, air terlihat penuh di permukaan, tetapi air di bagian bawah tidak mengalir dan mengendap. Air yang mengendap di bawah tidak terbuang, sehingga kualitas air menurun. Ini yang harus diubah. Pola pengairannya perlu diperbaiki,” pungkas dia.*

















