Beliau adalah Abah M. Sholeh bin Abdul Hamid bin Chasbullah bin Said bin Syamsuddin bin Nurkholifah. Jalur dengan Mbah Sechah adalah bin Chasbullah bin Fatimah binti Sechah. Sosok yang pendiam, sabar, istiqamah dalam mengimami salat di Masjid Bahrul Ulum, dan nyaris tak tersentuh hiruk-pikuk politik serta dunia lobi-melobi.
Abah Sholeh –yang satu angkatan dengan ayah saya saat nyantri di Pesantren Gedongsari, Prambon, Nganjuk– pada era Soeharto beberapa kali didatangi petinggi negara. Fokus saya bukan pada “wah, didatangi pejabat”, tetapi pada pertanyaan yang lebih sunyi: apa yang terjadi setelah didatangi?
Beberapa hari lalu, setelah menghadiri undangan kedubes Iran, kami ke Mbakyu dari istri saya yang tinggal di Bekasi. Mbakyu (Budhe Nyai Nur Fahimah) bercerita bahwa Jenderal R. Hartono pernah ke Tambakberas. Kita tahu, pada Era Orde Baru, R. Hartono pernah menjadi Pangdam Brawijaya, KSAD lalu Menteri Dalam Negeri. Sebagaimana kebiasaan masa itu, pejabat yang datang hampir selalu meninggalkan amplop, bukan sogokan, lebih sebagai adat penghormatan.
Konon saat itu, Abah menerima amplop sekitar lima belas juta rupiah. Tanpa akad, tanpa pesan, tanpa titipan. Dalam benak beliau, uang itu hendak diserahkan ke pondok untuk dikelola sesuai kebutuhan, seperti halnya ketika Wiranto membawa bantuan minyak goreng, yang langsung dibagikan ke pondok dan masyarakat sekitar.
Namun ada anak beliau yang merasa Abah terlalu ‘ihtiyath’ (berhati hati) hingga tak pernah memakai apa pun untuk dirinya sendiri. Padahal, saat itu Abah juga relatif hidup sederhana. Bahkan sampai saya menikah tahun 2002, beliau masih membakar bata merah –yang kini menjadi garasi mobil kami– lalu menjualnya.
Anak Abah Sholeh itu tanpa izin atau tanpa sepengetahuan mengambil tiga juta rupiah dari amplop dan menyimpannya untuk Abah. Apa yang terjadi? Tubuh Abah bereaksi: beliau mendadak panas dan sakit. Ibuk Fatimah, istrinya, meminta kepada anaknya agar uang itu dikembalikan. Setelah dikembalikan, Abah sembuh.













