“Ini bukan hanya ekonomi, ini soal kedaulatan. Pangan adalah bagian dari sistem pertahanan negara,” ujarnya.
Keberhasilan ini membawa Indonesia keluar dari posisi sebagai negara importir menuju pemain yang mulai diperhitungkan secara global. Bahkan, kebijakan pengendalian impor Indonesia disebut mulai berdampak pada dinamika harga pangan dunia.
Sejumlah negara seperti Malaysia, Australia, Jepang, hingga Kanada mulai mempelajari strategi Indonesia dalam meningkatkan produksi dan menjaga stabilitas pasokan.
“Yang membedakan kita adalah keberanian mengambil keputusan dan kecepatan bertindak,” katanya.
Selain pangan, Mentan juga menyoroti pentingnya kemandirian energi sebagai bagian dari pertahanan nasional. Indonesia sebagai produsen CPO terbesar di dunia dengan pangsa lebih dari 60 persen produksi global memiliki posisi strategis untuk mengendalikan rantai nilai industri sawit melalui penguatan sektor hilir.
Dengan optimalisasi tersebut, Indonesia ditargetkan mampu mengurangi ketergantungan impor energi dalam beberapa tahun ke depan.
“Kalau pangan dan energi kita kuat, tidak ada negara yang bisa menekan kita,” tegasnya.
Penguatan sektor pertanian juga berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional. Program berbasis desa dinilai mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya beli masyarakat, serta memperkuat fondasi ekonomi rakyat.


















