Dengan pendekatan poskolonial, Dabashi melihat bangsa Iran sebagai entitas yang terus bernegosiasi dengan intervensi luar, kolonialisme, dan hegemoni global, sekaligus berusaha membangun bentuk identitasnya sendiri.
Menurut Dabashi, karakter bangsa Iran kontemporer harus dipahami sebagai sesuatu yang inklusif, yang tidak hanya ditentukan oleh narasi politik laki-laki atau elit, tetapi juga oleh suara-suara yang selama ini terpinggirkan, termasuk perempuan dan kelompok minoritas.
Dengan demikian, karakter bangsa Iran menurut Dabashi adalah bangsa yang “terganggu” oleh sejarah kolonial dan intervensi asing, tetapi sekaligus bangsa yang kaya akan dinamika budaya dan politik internal.
Ia menolak gambaran statis dan klise, dan sebaliknya menekankan bahwa Iran adalah bangsa yang terus bergerak, bernegosiasi, dan berjuang dalam arus sejarah global.
Pandangan ini menjadikan karya Dabashi sebagai salah satu bacaan penting untuk memahami Iran kontemporer di luar stereotip yang sering dilekatkan oleh wacana Barat.
Baginya, sejarah Iran adalah perjalanan panjang yang penuh dinamika politik, sosial, dan intelektual, selalu “terganggu” oleh intervensi asing dan konflik internal.
Sejak Revolusi Islam 1979, era reformasi Khatami, hingga ketegangan nuklir di bawah Ahmadinejad menjadi bagian dari narasi bangsa yang terus bernegosiasi dengan sejarah global.
Menilik karya lain Dabashi, Corpus Anarchicum(2012), menyoroti tubuh manusia sebagai medium politik dalam lanskap perlawanan.
Ia membandingkan serangan 11 September dengan aksi bunuh diri Mohamed Bouazizi di Tunisia, menunjukkan bagaimana tubuh yang dikorbankan bisa memicu konsekuensi politik yang sangat berbeda: invasi militer di satu sisi, revolusi demokratis di sisi lain.
Dalam kerangka ini, tubuh menjadi simbol pasca-manusia yang sarat makna, bukan sekadar entitas biologis.
Membaca Iran hari ini melalui dua karya Dabashi, kita melihat sebuah bangsa yang kembali berada dalam pusaran sejarah yang keras.
Perang 2026 bukan hanya tentang rudal dan drone, tetapi tentang tubuh-tubuh yang hancur, tentang rakyat yang kehilangan, dan tentang identitas nasional yang terus diguncang oleh intervensi luar.
Iran adalah bangsa yang “terganggu,” seperti yang ditulis Dabashi, tetapi sekaligus bangsa yang terus bertahan, mencari bentuknya sendiri di tengah hegemoni global.
Refleksi ini menegaskan bahwa krisis Iran bukan sekadar peristiwa militer, melainkan bagian dari perjalanan panjang sebuah bangsa yang selalu bernegosiasi dengan kekuatan luar dan dengan dirinya sendiri.
coversong:
credit foto diunggah dari kanal Youtube Islamism as Liberation Theology-And Its Limits
w/ Hamid Dabashi @JayShapiroDilemmaPodcast dan dua cover buku Dabashi.

















