The Daily Show bahkan kerap disebut lebih informatif dibanding siaran berita arus utama. Dalam demokrasi Amerika, komedian satir bukan pengganggu ketertiban, melainkan bagian dari ekosistem kebebasan berbicara.
Mereka boleh salah, boleh kasar, bahkan boleh tidak lucu—tetapi mereka tidak boleh dibungkam. Karena di sana, hak untuk mengejek penguasa adalah fondasi republik.
Pandji berdiri di persimpangan itu. Ia bukan sekadar pelawak, tapi warga yang menggunakan humor sebagai bahasa kritik. Ketika ia berbicara tentang nasionalisme sempit, intoleransi, atau cara negara memperlakukan warganya, ia melakukan apa yang dilakukan komedian satiris di negara demokratis: mengingatkan bahwa negara bukan agama, dan pemimpin bukan nabi.
Masalahnya, di Indonesia, satir sering disalahpahami. Tertawa dianggap penghinaan. Kritik dibaca sebagai kebencian. Lelucon ditarik ke ruang pengadilan. Di titik ini, satir menjadi cermin yang retak: bukan karena komedinya, tapi karena demokrasi yang rapuh.
Padahal, satir justru menandai kedewasaan politik. Negara yang kuat tidak takut ditertawakan. Kekuasaan yang percaya diri tidak sibuk mengkriminalkan humor. Di Inggris dan Amerika, komedi satir adalah alarm sosial. Di Indonesia, ia masih sering diperlakukan sebagai ancaman.
Pandji, dengan segala kontroversinya, sedang menguji satu hal penting: sejauh mana kebebasan berbicara benar-benar hidup, bukan sekadar slogan konstitusi. Ketika komedian harus menjelaskan bahwa lelucon bukan makar, di situlah kita tahu demokrasi sedang batuk.
Pada akhirnya, satir bukan soal setuju atau tidak setuju dengan Pandji. Ia soal ruang. Ruang untuk menertawakan diri sendiri sebagai bangsa.
















