Oleh : Subchan daragana
Ada sesuatu yang selalu terasa ganjil setiap akhir Ramadhan.
Masjid mulai sepi.
Mall justru semakin ramai.
Di sepuluh malam terakhir, malam yang diyakini menyimpan kemungkinan Lailatul Qadr, sebagian orang justru sibuk di jalan, di pusat perbelanjaan, atau di perjalanan mudik yang panjang.
Padahal Rasulullah ﷺ mencontohkan sesuatu yang sangat berbeda.
Dalam riwayat Aishah binti Abu Bakr disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ مِئْزَرَهُ
“Apabila masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi Nabi, sepuluh malam terakhir adalah puncak spiritual.
Bagi sebagian umat hari ini, sepuluh malam terakhir justru menjadi puncak logistik lebaran.
Tiket mudik.
Belanja baju baru.
Menyiapkan THR.
Mengatur perjalanan pulang kampung.
Pertanyaannya sederhana namun menggelisahkan:
Mengapa momentum spiritual paling tinggi dalam Islam justru berubah menjadi musim paling sibuk secara duniawi?
Di sinilah kita menemukan sebuah paradoks.
Ramadhan adalah bulan menahan diri, menyederhanakan hidup, dan mendekatkan hati kepada Allah. Tetapi menjelang akhirnya, atmosfer masyarakat justru berubah menjadi sangat konsumtif.
Diskon “Ramadhan sale”.
Iklan pakaian lebaran.
Promo besar-besaran di pusat perbelanjaan.
Secara perlahan, fokus umat bergeser.
Dari pencarian Lailatul Qadr menuju persiapan hari raya.
Padahal Al-Qur’an menggambarkan malam yang sedang kita kejar itu dengan cara yang sangat luar biasa.
Allah berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)
Seribu bulan berarti lebih dari delapan puluh tahun.
Artinya satu malam itu nilainya lebih besar dari seluruh umur manusia dalam ukuran pahala.
Ironisnya, pada malam-malam yang mungkin lebih berharga dari umur kita sendiri, sebagian dari kita justru sedang berdiri di antrean kasir pusat perbelanjaan.
Fenomena ini sebenarnya sudah lama disadari oleh para ulama.
Seorang ulama besar, Ibn Rajab al-Hanbali, dalam kitab Latha’if al-Ma’arif menulis bahwa para salaf justru mencurahkan seluruh energi ibadah mereka pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Bagi mereka, ini bukan fase penutup yang santai.
Ini adalah fase penentuan.
Sementara itu seorang tabi’in besar, Hasan al-Basri, pernah mengingatkan dengan kalimat yang sangat tajam ” betapa buruknya suatu kaum yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan.”
Ucapan itu terasa semakin relevan hari ini.
Karena bukan hanya setelah Ramadhan berakhir kita kembali sibuk dengan dunia bahkan sebelum Ramadhan selesai pun sebagian dari kita sudah mulai meninggalkan suasana ibadahnya.
Namun di tengah kritik terhadap fenomena ini, kita juga perlu memahami satu hal penting.
Islam memang tidak melarang kegembiraan di hari raya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا
“Setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.”
(HR. Bukhari)
Hari raya memang hari kegembiraan.
Hari silaturahmi.
Hari berbagi.
Tetapi kegembiraan itu datang setelah perjuangan spiritual selesai, bukan menggantikan perjuangan itu.
Di sinilah muncul pertanyaan yang lebih menarik.
Jika berbicara tentang pesta, jamuan makan, dan perayaan bersama keluarga, sebenarnya tradisi itu lebih dekat dengan Idul Adha daripada Idul Fitri.
Pada Idul Adha ada qurban.
Ada pembagian daging.
Ada makan bersama.
Al-Qur’an bahkan secara eksplisit memerintahkan:
فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
“Makanlah sebagian darinya dan berikanlah kepada orang yang membutuhkan.”
(QS. Al-Hajj: 28)
Bahkan Rasulullah ﷺ menyebut hari-hari setelah Idul Adha sebagai hari makan dan minum.
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ
“Hari-hari tasyriq adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.”
(HR. Muslim)
Ini menunjukkan bahwa secara struktur ibadah, Idul Adha memang memiliki unsur sosial dan jamuan yang sangat kuat.
Sedangkan Idul Fitri sebenarnya memiliki makna yang jauh lebih kontemplatif.
Ia adalah simbol kembali kepada kesucian setelah perjalanan spiritual yang panjang.
Dalam tradisi para ulama salaf, akhir Ramadhan justru bukan suasana pesta.
Ia adalah suasana haru.
Diriwayatkan bahwa para ulama terdahulu menangis ketika Ramadhan berakhir. Bukan karena lelah berpuasa, tetapi karena takut amal mereka tidak diterima.
Mereka bahkan memiliki tradisi doa yang sangat menarik: enam bulan sebelum Ramadhan mereka berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan, dan enam bulan setelahnya mereka berdoa agar Ramadhan mereka diterima.
Bandingkan dengan suasana kita hari ini.
Ramadhan belum selesai, tetapi pikiran kita sudah sibuk dengan jadwal perjalanan, daftar belanja, dan persiapan hari raya.
Bukan berarti semua itu salah.
Mudik adalah silaturahmi.
Memberi hadiah kepada keluarga adalah kebaikan.
Memakai pakaian terbaik di hari raya adalah sunnah.
Namun yang patut kita renungkan adalah proporsinya.
Apakah kita lebih sibuk menyiapkan hari raya daripada menyiapkan akhir Ramadhan?
Karena jika Ramadhan adalah tamu agung, maka sepuluh malam terakhir adalah saat-saat terakhir kita bersamanya.
Dan mungkin pertanyaan paling jujur yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri adalah ini:
Mengapa kita begitu sibuk menyambut hari raya,
tetapi tidak terlalu sedih ketika Ramadhan pergi?
Padahal mungkin di malam-malam terakhir itulah Allah sedang menurunkan rahmat terbesar-Nya.
Dan bisa jadi di antara suara kendaraan mudik dan hiruk pikuk pusat perbelanjaan Lailatul Qadr lewat begitu saja tanpa kita sadari.
Karena kita terlalu sibuk menyiapkan pesta.
Padahal yang sedang pergi adalah bulan yang mungkin tidak akan pernah kembali dalam hidup kita. 🌙














