Ia menambahkan bahwa peristiwa Mei 2026 seharusnya menjadi momentum evaluasi besar terhadap arah pengembangan pasar modal nasional di tengah meningkatnya fragmentasi ekonomi global dan dominasi kapital finansial internasional.
Menurut penilaian Kusfiardi, tantangan terbesar pasar modal Indonesia ke depan bukan hanya menjaga stabilitas harian market, tetapi membangun struktur pasar yang memiliki daya tahan institusional terhadap external capital shock. Tanpa reformasi struktural yang serius, pasar modal domestik akan terus berada dalam posisi rentan terhadap perubahan indeks global, capital reversal, dan fragmentasi keuangan internasional.
“Tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar menjaga IHSG tetap hijau, tetapi membangun struktur pasar yang lebih dalam, lebih kredibel, dan memiliki kapasitas kedaulatan finansial yang lebih kuat di tengah relasi kekuasaan kapital global,” pungkas Kusfiardi.***

















