TERASJABAR.ID – Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota Komisi III DPR RI, menyoroti rencana Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam pengadaan sarana drug signature analysis.
Ia mempertanyakan kemampuan alat tersebut dalam mendeteksi jenis narkotika terbaru yang tengah marak di Indonesia, termasuk New Psychoactive Substances (NPS) dan penggunaan Whip Pink (N₂O) yang populer di kalangan remaja.
Pernyataan ini disampaikan Habib saat Rapat Kerja Komisi III DPR RI bersama Kepala BNN, Suyudi Ario Seto, dan Kepala BNNP se-Indonesia di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Legislator dari Dapil Kalimantan Selatan I ini menyoroti besarnya anggaran pengadaan alat tersebut, yakni Rp55,74 miliar, yang hampir menyerap 93 persen dari total anggaran laboratorium.
“Apakah alat ini mampu mengidentifikasi NPS terbaru? Dapatkah mendeteksi bahaya Whip Pink untuk efek euforia?” tanyanya Habib, seperti ditulis Parlementaria pada Rabu, 4 Februari 2026.
Habib juga menekankan bahwa pengedar narkoba perlu ditindak tegas dengan cara yang bisa dilihat publik agar memberikan efek jera.
Ia menegaskan bahwa penegakan hukum harus tetap sesuai peraturan dan undang-undang, namun ketegasan tersebut harus jelas terlihat agar masyarakat dan pelaku memahami risiko penyalahgunaan narkoba.
Menurut Habib, efektivitas BNN dalam menekan peredaran narkotika tergantung pada kombinasi antara penggunaan teknologi modern dan penegakan hukum yang tegas, sehingga pengawasan terhadap NPS dan tren baru seperti Whip Pink bisa lebih optimal.-***










