TERASJABAR.ID – Panitia Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot menggelar sosialisasi sekaligus konsolidasi dengan para Ketua RW di beberapa desa di Kecamatan Dayeuhkolot untuk membahas penanganan banjir di Kecamatan Dayeuhkolot.
Silaturahmi dan konsolidasi ini digelar secara maraton oleh Panitia Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot di Groei Coffee kawasan Telkom University, Sukapura, Dayeuhkolot, Sabtu-Minggu (7-8/2/2026).
Pada pertemuan pertama yang digelar Sabtu (7/2), Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot mengundang para Ketua RW se-Desa Dayeuhkolot. Sedangkan pada Minggu (8/2) giliran para Ketua RW se-Desa Citeureup yang diundang Pentahelix.
Ketua Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot, Tri Rahmanto mengatakan kegiatan silaturahmi dan konsolidasi dengan para Ketua RW tersebut dimanfaatkan untuk menyosialisasikan hasil pemetaan titik-titik lokasi banjir sekaligus menampung masukan dari para Ketua RW
“Selain menampung masukan dari para Ketua RW, kami juga menyampaikan rencana dan langkah-langkah percepatan penanganan banjir sekaligus kami mengajak para Ketua RW untuk berkolaborasi menangani banjir di Dayeuhkolot,” ujar Tri Rahmanto kepada awak media, Minggu (8/2/2026).
Tri berharap pertemuan tersebut dapat membuka kembali kesadaran masyarakat khususnya para Ketua RW untuk bersama-sama dan berkolaborasi dalam menyelesaikan permasalahan banjir, minimal di lingkungan masing-masing.
“Sejak dibentuk pada November 2025 lalu, kami telah melaksanakan sejumlah kegiatan untuk menekan risiko banjir diantaranya normalisasi saluran drainase, pemasangan pintu air Pasigaran, pemasangan bronjong sempadan sungai Citarum dan lainnya,” ungkapnya.
Selain itu, lanjut Tri Rahmanto, berbagai program prioritas penanganan banjir Dayeuhkolot akan dilaksanakan pada 2026 ini mulai dari pembangunan Jembatan Sukabirus dan Pasigaran, pengadaan mesin sedot, normalisasi saluran drainase, pengerukan sungai dan program lainnya melalui kolaborasi lintas sektoral.
Pada kesempatan tersebut, para Ketua RW menyampaikan berbagai permasalahan dsn usulan penanganan banjir di lingkungan masing-masing. Misalnya Ketua RW 12 Citeureup melaporkan luapan Sungai Cigede yang masih sering terjadi sehingga diusulkan peninggian parapet setinggi 80 sentimeter sepanjang 150 meter serta pemasangan pintu air.
RW lainnya juga menyampaikan permasalahan serupa mulai dari permasalahan bangunan liar yang menghambat aliran air, usulan pemasangan pintu air, usulan pengerukan sungai hingga kirmir roboh dekat kawasan industri PT Metro Garmin dam Daliatex yang menyebabkan luapan air ke pemukiman warga.
Tri memastikan, seluruh usulan yang disampaikan para Ketua RW akan segera ditindaklanjuti dan dilakukan mitigasi ke lapangan sesuai skala prioritas, bersama instansi teknis terkait.
“Kami akan segera melakukan mitigasi terhadap usulan-usulan yang disampaikan. Penanganan banjir tidak bisa berjalan sendiri, perlu kolaborasi semua pihak. Kami juga meminta para Ketua RW untuk terus bekerja sama dengan masyarakat agar turut berperan aktif dalam menjaga lingkungan, terutama dalam pengendalian sampah dan menjaga saluran air tetap berfungsi,” tegasnya.
Ia menambahkan, sebagian usulan yang menjadi kewenangan Dinas PSDA Provinsi, Dinas Bina Marga Provinsi, BBWS, serta Dinas PUTR Kabupaten mayoritas telah mendapatkan persetujuan untuk direalisasikan secara bertahap.
Terkait keberadaan bangunan liar yang menghambat normalisasi dan aliran air, Tim Pentahelix menegaskan penertiban akan dilakukan secara bertahap dan tetap mengedepankan pendekatan humanis sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kami berharap berbagai usulan para Ketua RW dan masyarakat dapat direalisasikan sehingga penanganan banjir di wilayah Dayeuhkolot dapat berjalan lebih cepat, terarah, dan mampu meminimalisir dampak banjir bagi masyarakat,” tuturnya. (**)












