Terhadap realisasi kuartal pertama tahun 2020 tercatat melesat hingga 1.442 persen karena pada Januari-Maret 2020 realisasi serap berada di level 90,1 ribu ton.
Lalu dibandingkan pada kuartal pertama 2021 meningkat 492,5 persen. Kala itu realisasi serap Januari-Maret 2021 berada di 234,6 ribu ton.
Sementara terhadap realisasi Januari-Maret 2022 sampai 2025 masing-masing meningkat 2.071 persen, 1.374 persen, 3.871 persen, dan 93,2 persen.
Ini berkaca pada realisasi serapan beras produksi dalam negeri 2022-2025 yang masing-masing tercatat 64 ribu ton, 94,3 ribu ton, 35 ribu ton, dan 719,3 ribu ton.
Dengan realisasi serapan beras produksi dalam negeri yang sangat progresif tersebut telah memperkuat stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Pemerintah pun percaya diri lebih siap dalam mengatasi dampak musim kemarau yang akan menjelang.
“Dari sisi stok, stok hari ini tertinggi yaitu 4,3 juta ton. Di bulan depan perkiraan 5 juta ton lebih, berarti aman. Jadi persiapan kita jauh lebih baik dibanding sebelumnya,” ujarnya.
Rekor realisasi serapan beras produksi dalam negeri di kuartal pertama tahun 2026 ini turut diamini oleh Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani. Ia mengungkapkan capaian ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah.
“Penyerapannya 1,3 juta ton, Januari sampai bulan Maret ini. Itu sudah 1,3 juta ton. Itu sepanjang sejarah juga tertinggi juga. Belum pernah dalam 3 bulan sampai 1,3 juta itu belum pernah. Baru kali ini,” tutur Rizal.

















